Wednesday, 3 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 9)

  Part 8


        9.  PERASAAN ANEH

Miko sedang diperjalanan menuju apartemen, ia ingin mengambil beberapa helai rambut Marsya untuk di lakukan tes DNA dengan rambut Sesil. Namun sesampainya ia disana, ia kaget melihat seorang pria sedang makan bersama Dara dan Marsya. Miko langsung marah pada Dara yang memasukan pria tanpa seijinnya namun Dara segera membawa Miko keluar apartemen untuk meredam kemarahan Miko.

Miko    : Apa kamu gila ? bisa-bisanya memasukan seorang pria kedalam apartemenku !


Dara     : Maaf Miko, dia temanku, dan aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi pas di lobi.

Miko    : Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan pria itu, yang aku pedulikan adalah untuk apa dia masuk ke apartemenku !

Dara     : Kamu tahan dulu emosi kamu, apa kamu mau pria itu, maksudku Rifky curiga tentang kemarahanmu disini ?

Miko    : Maksudmu ?

Dara     : Bukankah kamu mengatakan jika tidak boleh ada yang tahu bahwa Marsya itu anak kamu, jika kamu marah sekarang dan mengusir Rifky, dia akan curiga dan bertanya apa hubungan kamu dengan aku dan Marsya.

Miko diam menahan kemarahannya. Tapi Dara benar juga, jika ia memarahi dan mengusir Rifky, maka Rifky akan curiga.

Miko    : Tapi tetap saja, kamu tidak bisa seenaknya memasukan pria ke dalam apartemen. Itu sama saja mengundang masalah.

Dara     : Yaa ! dia itu temanku, lagipula aku tidak akan mengundang masalah jika kamu tidak datang kesini. Lagipula bukankah kamu sendiri yang mengatakan sangat sibuk dan tidak akan sering datang kesini

Miko    : Tapi bukan berarti kamu bebas memasukan pria !

Dara     : Ya sudah, aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan memasukan orang lain lagi. Sekarang kamu ada perlu apa kesini ?

Miko    : Aku perlu bertemu Marsya

Dara     : Ada apa ?

Miko    : Bukan urusanmu !

Dara     : Tentu saja jadi urusanku, karena Dara aku yang mengurusnya. Dan jika kamu ada perlu dengan dia, setidaknya aku harus tau

Miko    : Kamu fikir kamu ini siapa bisa bicara seperti itu !

Dara     : Meskipun aku tidak ada hubungan darah dengan Marsya, tapi setidaknya aku peduli dengan dia dibanding ayahnya sendiri!

Miko    : KAU !!! Baiklah . aku perlu beberapa helai rambut Marsya, aku fikir aku sudah menemukan siapa ibunya !

Dara     : Apa kamu bilang ? sepertinya kamu benar-benar tidak tau sedikitpun tentang Marsya. Aku tidak akan mengijinkanmu untuk mengambil sehelai pun rambut Marsya. sekarang lebih baik pergi dari sini jika niatmu hanya untuk membuat Marsya pergi dari kehidupanmu !

Dara meninggalkan Miko diluar apartemen, lalu mengunci apartemen dari dalam. ia yang smeula ingin meredam kemarahan Miko menjadi berbalik marah mengetahui keperluan Miko datang kesini. Miko berusaha membuka pintu apartemen, tapi ia tidak bisa karena ternyata Dara sudah memasang selot sehingga tidak akan ada yang bisa masuk ke apartemen tanpa seijinnya termasuk Miko.

Rifky    : Bukankah tadi itu Miko Iskandar ?

Dara gelagapan menjawab pertanyaan Rifky,

Dara     : I . .  Iya benar, itu memang artis itu.

Rifky    : Ada apa dia datang kesini ? apa kamu mengenal dia ?

Dara     : Tidak, aku tidak mengenalnya. Sepertinya dia salah masuk apartemen. Lagipula mana mungkin aku bisa kenal dengan artis seperti dia. Yasudah, silahkan lanjutkan lagi makannya.

Rifky memang tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Dara, karena tidak mungkin jika seorang Miko salah masuk apartemen orang lain. Tapi ia juga tidak ingin terlalu ikut campur karena ia merasa itu akan membuat Dara tidak nyaman

Miko pulang dengan perasaan kesal, bagaimana mungkin Dara yang hanya seorang pengasuh bisa berbuat seperti itu pada dirinya. Miko memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia kesal dan tidak habis fikir pada Dara, ia memukul setir mobil karena kemarahannya. Tapi Miko juga merasa sedikit aneh, mengapa ia hanya diam diperlakukan seperti itu oleh Dara. Ia tidak biasanya diam di hadapan orang lain, tapi di hadapan Dara, ia seperti merasakan perasaan aneh, ia tidak bisa melawan dan membantah Dara. Kejadian malam itu setelah dari kantor polisi seolah menggertak dan membuat perasaannya tak bernyali di depan Dara. Ada apa sebenarnya dengan dirinya ?

Malamnya Dara melamun sendiri di balkon apartemen, Marsya sudah terlelap karena kekenyangan setelah makan begitu banyak. Dara memikirkan pertengkarannya dengan Miko tadi sore. Miko menginginkan helai rambut Marsya untuk di test, tapi dengan siapa ? bukankah ibu Marsya sudah meninggal ? apa mungkin Miko sudah menemukan nenek Marsya dan ingin mengembalikan Marsya pada neneknya ?

Memikirkan hal itu membuat Dara kesal pada Miko, ia benar-benar tidak habis fikir, bisa-bisanya seorang ayah berbuat seperti itu pada anaknya sendiri. Bukan hanya mengacuhkan Marsya, tapi ia juga ingin menyingkirkan Marsya dari kehidupannya seolah-olah Marsya itu beban untuk dirinya. Apa begitukah kehidupan seorang artis, dibalik image nya yang baik, ternyata tersimpan seribu keburukan yang berusaha mereka singkirkan bagaimanapun caranya.

Setelah semalaman berfikir keras, Miko memutuskan untuk tetap melakukan tes DNA Marsya dan Sesil. Ia adalah ayah dari Marsya, dan Dara sama sekali tidak punya hak untuk mencampuri urusannya. Miko mendatangi apartemen, ia memencet bel karena tahu sudah tidak bisa lagi membuka pintu.

Dara membuka pintu dan melihat Miko, Dara ingin menutup pintu kembali, tapi Miko menahannya. Ia pun memaksa masuk. Sesampainya didalam, ia mencari Marsya dan ia menemukan Marsya masih tidur. Kemarahan Dara kemarin sudah mulai reda, ia perlahan menarik Miko dari kamar Marsya dan mengajaknya bicara di ruang tamu.

Dara     : Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan dengan rambut Dara ?

Miko    : Aku fikir aku sudah menemukan ibu kandung Dara, tapi aku belum yakin karena perempuan itu seperti menutupinya, karena itu aku ingin melakukan tes DNA untuk memastikan hal tersebut.

Dara diam mendengar perkataan Miko. Ia benar-benar merasa kasihan dengan Marsya, Dara ingin marah tapi ia mencoba menahannya dan tetap berbicara secara baik-baik.

Dara     : Begini, aku fikir ada satu hal yang kamu tidak tahu tentang Marsya, anakmu. Aku tahu kamu sangat terbebani dengan kehadirannya. Kamu tidak ingin karir kamu yang sedang melejit hancur hanya karena seorang anak. Tapi aku mohon, ijinkan Marsya untuk tetap di bawah pengawasanmu.

Miko    : Kamu siapa berani berkata seperti itu !!

Dara     : Miko, satu hal yang kamu belum tahu itu, Marsya kehilangan ibunya saat ia dilahirkan. Jadi orang yang kamu kira ibu Marsya itu pasti memang bukanlah ibunya .

Miko tidak percaya mendengar perkataan Dara,

Miko    : Maksudmu ?

Dara     : iya, Ibunya sudah meninggal, Marsya sendiri yang mengatakan hal itu. Apa kamu fikir anak sekecil itu akan berbohong ?

Miko    : Tidak mungkin !

Dara     : Aku fikir, itu juga yang menjadi sebab neneknya mengantarkan Marsya padamu. Kau tahu, Marsya sekarang sudah berusia 6 tahun dan beberapa bulan lagi ia harus mulai bersekolah. Mungkin saja nenek Marsya bukanlah orang yang mampu untuk menyekolahkan Marsya, karena itu ia memilih untuk meninggalkan Marsya padamu agar masa depan Marsya lebih terjamin.

Miko pulang dengan fikiran kosong, kenyataan yang baru saja ia ketahui membuatnya sangat kecewa. Masih terdengar suara Dara yang menjelaskan betapa malangnya nasib Marsya.  Ia tidak menyangka nasib Marsya akan seburuk itu. Ia yang selama ini merasa rugi sendiri, sama sekali tidak terfikir olehnya bagaimana perasaan Marsya.

Saat ia memikirkan Marsya, tiba-tiba ia teringat pada Dara. ia memikirkan awal pertemuan dengan Dara, bagaimana Dara yang terlihat sangat menyebalkan, tapi juga sangat menyedihkan ketika di kantor polisi dan sekarang Dara terlihat lebih bijaksana ketika mengurus Marsya. Kepribadian Dara yang berubah-ubah membuat Miko semakin tidak mengerti pada Dara, ditambah lagi sekarang saat Dara bersama dengan Marsya, dirinya begitu mudah untuk menurut pada perkataan Dara seolah-olah Dara bisa mengatur apa yang ia lakukan. Miko sudah bersama Ismi selama 4 tahun, tapi ia bisa dengan mudah membantah Ismi sekalipun Ismi adalah managernya. Tapi mengapa tidak dengan Dara, Ada apa sebenarnya dengan Dara ? mengapa ia begitu bisa membuat Miko tidak bisa membantahnya ? 

Part 10 

No comments:

Post a Comment