Sunday, 28 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 20)

Part 19


        20. GADIS YANG TERLUPAKAN

Miko segera pergi kerumahnya. Pesan dari Arin benar, Marsya sekarang berada di rumahnya. Meskipun wajahnya sedikit murung, tapi ibu dan ayahnya berada di samping Marsya. Mereka sedang menonton tv bersama,Ia melihat meja penuh dengan makanan. Sepertinya Ibu dan ayah memperlakukan Marsya dengan baik.

Ibu       : Lihat, ayah pulang. Nenek kan sudah bilang, ayah pasti akan pulang, jadi sekarang tidak perlu bersedih lagi.

Marysa : Tapi disini tidak ada Dara.

Ibu       : Dara, dia sudah pulang. Dia juga punya keluarga dan pasti sudah lama tidak berkumpul dengan mereka.


Marsya : Benar juga, Ibu Dara pasti sendirian jika Dara tidak pernah berada dirumah.

Miko    : Apa maksudmu sendirian?

Marsya : Tentu saja sendirian, karena Dara hanya tinggal berdua dengan ibunya.

Ayah    : Marsya, karena ayahmu sudah pulang, jadi kamu harus tidur sekarang.

Marysa : Baik, kakek.

Miko mengantar Marsya ke kamarnya. Kamar Miko sekarang menjadi kamar Marsya, tidak banyak perubahan disana , ibu hanya menabahkan satu lemari baju disana. Setelah Marsya tidur, Miko kembali ke ruang tv menemui ayah dan ibunya.

Ayah    : Kau, lanjutkan saja karirmu. Marsya biarkan dia disini. Aku akan mengurusnya.

Miko    : Ayah, apa maksudmu ?

Ayah    : Aku sudah lelah mengurusmu, mulai sekarang kau bisa lakukan apapun yang kau inginkan. Tapi Marsya, aku yang akan mengurusnya.

Miko    : Marsya anakku, aku yang akan mengurusnya.

Ibu       : Miko, kau ini belum menikah. Apa kata orang lain jika kau punya anak. Fikirkanlah karirmu, dan juga fikirkan juga keluargamu.

Miko    : Ibu. . . .

Ibu       : Marsya, apa kau bisa membayangkan apa yang akan ia alami disekolahnya jika situasi seperti ini ? Ini pilihan terbaik.

Miko    : Dara, apa yang terjadi dengannya ?

Ibu       : Oh, perempuan itu, dia sudah ibu berhentikan. Dia sudah tidak ada urusan lagi dengan kita.

Miko    : Tapi, kenapa semuanya terjadi secara tiba-tiba.

Ibu       : Setelah mendengar pengakuanmu tadi pagi, ibu fikir tidak ada gunanya lagi Dara disini,

Miko    : Tapi Bu, urusanku dengannya belum selesai, kenapa ibu menyuruhnya pergi ?

Ibu       : Urusan apa ? Dia hanya seorang pegawai. Selain pekerjaan, urusan apa lagi dia denganmu ?

Miko    : Ibu . . .

Ibu       : Pulanglah.

Dara berada dikamarnya, ia sengaja mematikan ponsel karena tidak ingin ada yang menghubunginya lagi. Dara ingat penghinaan ibu Miko pada dirinya. Meskipun kenyataan bahwa Dara adalah perempuan yang gagal, tapi ia bukan seorang penipu. Berdasarkan apa Ibu Miko menyebutnya seorang penipu ? Apa mungkin karena Dara berkata ia seorang penyewa di apartemen Miko ? Tapi bagaimana ia bisa semarah itu ?

Miko pulang kerumahnya, ia berkali-kali menelpon Dara tapi masih tidak aktif. Kemana sebenarnya perempuan itu ? Miko ingat ia mempunyai KTP Dara, Miko mengambil KTP Dara dan melihat alamat rumahnya.

Pagi harinya, Miko mencari rumah Dara. Ia akhirnya menemukan rumah yang ia cari. Rumahnya kecil dan terletak di gang sempit. Dara, setelah banyak hal buruk yang ia alami, ia masih harus tinggal dirumah seperti ini. Mengapa ia begitu menyedihkan ?

Miko mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Ia menunggu hampir 15 menit, masih belum ada yang keluar. Ini masih pagi, tapi rumahnya sudah kosong. Apa benar ini rumah Dara, lalu jika benar, kemana sebenarnya Dara dan ibunya pergi sepagi ini ?

Sementara perempuan yang difikirkan Miko. Dia kembali membantu ibunya di pasar. Kemarin Dara memang sudah mengalami hari yang buruk, tapi ia kini sudah bukan Dara yang seperti dulu. Dara tidak ingin waktunya banyak terbuang jika ia terus  larut dalam kesedihannya. Ditambah lagi ia tidak ingin membuat ibunya sedih setelah apa yang menimpanya.

Miko pergi kerumahnya untuk melihat keadaan Marsya. ketika ia sampai dirumah, Marsya tidak ada dirumah. Hanya ada ibu yang sedang duduk sendiri.

Miko    : Marsya kemana ?

Ibu       : Dia pergi berolah raga dengan kakeknya. Sudah sarapan ?

Miko    : Belum.

Ibu       : Sarapan dulu sebelum kerja.

Miko pergi ke dapur melihat sarapan yang telah ibu siapkan untuknya. Tak lama Arin keluar dari kamarnya,

Arin     : Ibu, Aku mendapatkan alamat neneknya Marsya. Haruskah kita pergi kesana ?

Ibu       : Darimana kau dapatkan itu ?

Arin     : Aku bertemu Dara kemarin.

Ibu       : Dara, dasar rubah licik. Bahkan setelah tertangkap basah oleh ibu, dia masih berpura-pura.

Arin     : Maksudmu ?

Ibu       : Dia sudah tahu rumah nenek Marsya, tapi masih menyembunyikan hal itu dari Miko dan Ismi. Bukankah dia sangat licik.

Arin     : Ibu, darimana ibu tahu Dara tahu rumah Nenek Marsya ? Apa mungkin ibu juga tahu rumah nenek Marsya ?

Miko    : Ibu ? Jangan katakan kau tahu asal usul Marsya.

Ibu       : Miko . . . Ibu

Miko    : Ibu, aku akan kecewa jika ibu terus seperti ini.

Ibu       : Dulu, seorang gadis datang. Ia mengaku hamil anakmu. Ibu tidak mempercayai begitu saja tentang pengakuannya. Ibu mengatakan untuk jangan pernah datang mengganggumu.

Miko    : Lalu ibu memberinya uang dan mengusirnya. Tanpa sedikitpun tidak memberitahuku ?

Ibu       : Umurmu masih 19 tahun, kau fikir apa keadaannya akan berubah jika ibu mengatakannya ?

Miko    : Ibu . . .

Ibu       : Yang seharusnya dipersalahkan adalah dirimu. Kenapa menyia-nyiakan masa mudamu untuk hal bodoh seperti itu.

Miko pergi ke alamat yang diberikan Arin. Ketika sampai di alamat yang ia cari. Miko ingat kejadian 8 tahun yang lalu. Indri, teman sekelasnya. Ia adalah gadis yang tidak terlalu cantik, tapi ia sangat pintar. Saat itu ia datang kerumah ini untuk menanyakan tugas. Setelah selesai, Miko mengajak Indri untuk mentraktirnya makan sebagai ucapan terimakasih atas bantuan Indri. Ketika selesai makan, hujan turun sangat lebat. Miko dan Indri basah terkena air hujan ketika mereka akan masuk ke mobil. Sesampainya di mobil, Miko melihat Indri dengan baju yang basah, itu membuat rasa tertariknya muncul pada Indri. Ia memperhatikan Indri dari ujung rambut hingga ujung kaki. Indri memang tidak cantik, tapi ia juga tidak buruk. Dan saat itu, terjadi sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.

Miko menyesal tidak mengingat Indri saat ia mencari ibu Marsya. Yah, Indri memang tidak pernah berpacaran dengannya, bahkan setelah sesuatu terjadi, Indri bersikap biasa pada dirinya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa pada mereka. Miko tidak pernah berfikir Indri akan hamil hanya karena hubungan sehari dengannya

Miko mengetuk pintu rumah Indri. Tak berapa lama seorang nenek membukanya. Ketika melihat Miko yang datang, ia langsung menutup pintu kembali. Tapi Miko segera menahan pintu dengan tangannya.

Nenek : Apa yang kau lakukan disini ?

Miko berlutut dan menundukkan kepalanya.

Nenek : Untuk apa kau berlutut ? Berharap ingin dimaafkan.

Miko    : Tidak, saya tidak pantas untuk dimaafkan.

Nenek : Lalu untuk apa kau datang kesini ?

Miko    : Kau pasti sangat membenciku, dan sangat ingin memakiku.

Nenek : Lalu, jika aku memakimu, apa semua akan kembali ?

Miko    : Maksud anda ?

Nenek : Sudahlah, aku tidak ingin melihat wajahmu.

Miko    : Nyonya. . .

Nenek : Nyonya ? Itu panggilan untuk ibumu. Jangan samakan aku dengan nya.

Nenek menutup pintu dan membiarkan Miko berlutut didepan pintu rumahnya. Ponsel Miko berdering, itu dari Ismi. Miko tidak mengangkat panggilan dari Ismi. 3 jam berlalu, Nenek melihat Miko yang masih belum bergerak dari posisinya. Ia melihat cuaca diluar sangat panas, tapi Miko masih berada disana. Ia keluar dan membawa segelas air putih.

Nenek : Jika kau masih ingin berlutut, setidaknya minumlah. Aku tidak ingin rumahku ramai karena seseorang pingsan.

Miko    : Aku berlutut disini tidak apa-apanya dibandingkan dengan kesalahan yang sudah aku lakukan.

Nenek : Benar, kesalahanmu tidak akan membuat anakku kembali hidup.

Miko    : Saya tahu. Apapun yang saya lakukan tidak akan membuat Indri kembali hidup.

Nenek : Jika kau tahu, lalu untuk apa datang kesini ? Menyuruh aku mengurus Marsya lagi ?

Miko    : Tidak,

Nenek : Lalu apa ?

Miko    : Aku ingin merawat Marsya, melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan sejak dulu.

Nenek : Kau memang seharusnya melakukan itu. Tidak perlu datang kesini !

Miko    : Aku akan merawat Marsya dan membuatnya tersenyum. Karena itu, aku mohon anda bisa tetap jadi neneknya. Menjadi nenek yang tetap hangat ketika ia datang mengunjungimu kesini. Aku juga akan mengajak Marsya untuk mengunjungi ibunya. Aku kesini untuk meminta restu kepada anda, sebagai nenek Marsya, dan juga ibu Indri.

Nenek : Indri, Dia begitu muda, pintar dan berbakat. Tapi dia juga bodoh. Ketika ia bisa menghindari semua masalah yang akan muncul, ia sama sekali tidak menghindarinya. Ia menolak beasiswa dari perguruan tinggi, menerima cacian dan hinaan dari semua orang, termasuk dari ibumu. Ia menghadapi semua itu, hanya untuk seorang bayi yang belum pernah temui.  Bahkan setelah pengorbanan besar yang ia lalui, ia tetap tidak bisa merawat bayinya.

Miko    : Maafkan saya, saya tahu seribu kali saya meminta maaf, tidak akan merubah apapun. Saya juga tidak berharap anda bisa segera memaafkan saya. Tapi ijinkan saya untuk merawat Marsya, membuatnya tersenyum bahagia. Mungkin dengan begitu, Indri tidak akan menyesali pengorbanan yang selama ini sudah ia lakukan.

Miko pergi ke pemakaman Indri. Indri Larasati, lahir 12 Mei 1989 – wafat 27 Januari 2008 . Ia meninggal tanggal 27 Januari, sehari setelah Marsya lahir. Miko tidak pernah berfikir Indri akan sampai sejauh itu hanya untuk memperjuangkan bayinya yang tidak inginkan semua orang. Apa yang dilakukan Indri sangat berbanding terbalik dengan Miko, hanya karena tidak ingin karirnya hancur, ia mengorbankan mengorbankan Marsya, membuat Marsya kecewa, menangis dan bersedih. Menyia-nyiakan semua pengorbanan Indri. Ayahnya benar, ia memang belum pantas disebut sebagai ayah ?
Ponsel Miko kembali berdering. Itu masih dari Ismi. Miko mengangkatnya.

Ismi      : Dimana ?

Miko    : Di jalan. Ada apa ?

Ismi      : Gue perlu bicara, ke rumah gue sekarang.

Miko melihat jam tangannya, sudah pukul 3 sore. Ismi memanggilnya pasti untuk memarahinya karena ia melewatkan syuting yang seharusnya ia lakukan hari ini. Miko pergi ke rumah Ismi.

Miko    : Sory, gue ada urusan. Apa terjadi kekacauan di lokasi ?

Ismi      : Tidak terlalu parah.

Miko    : Trus ada apa lo manggil gue ?

Ismi      : Aku menghawatirkanmu. . .

Miko    : Aku ? Lo demam Mi ?

Ismi      : Mulai sekarang, bisakah kita bicara lebih formal?

Miko    : Maksudmu ?

Ismi      : Membayangkan kamu harus menghadapi orang tuamu. Harus mengulangi pertengkaran besar seperti waktu itu. Aku menghawatirkanmu.

Miko    : Hey, jangan terlalu khawatir. Aku baik-baik saja. Setidaknya semua berakhir tanpa banyak kekacauan.

Ismi      : Tanpa banyak kekacauan ?

Miko    : Marsya sudah dirumah bersama orang tuaku. Mereka akan mengambil tanggung jawab sebagai orang tua Marsya. Awalnya aku sangat marah, tapi setelah bertemu dengan nenek Marsya. Orang tuaku benar, Aku merasa belum pantas menjadi seorang ayah.

Ismi      : Nenek Marsya ? Apa mungkin kamu sudah menemukan rumahnya ?

Miko    : Sudah. Dara juga sudah tahu rumah neneknya.

Ismi      : Jadi selama ini Dara sudah tahu ?

Miko    : Belum, dia baru tahu dua hari yang lalu. Dan sekarang ia sudah di pecat oleh ibuku.

Ismi      : Lalu apa yang terjadi di rumah nenek Marsya ?

Miko    : Ibu Marsya teman sekelasku saat SMA. Dia pintar dan berbakat. Tapi aku menghancurkan masa depannya. Mengorbankan kehidupan seorang gadis sampai akhir khayatnya. Membuat ia menangis dan menderita sendirian. Bertahan melawan sakit dan cacian. . . .Bukankah aku seorang benar-benar seorang pecundang ?

Ismi menghampiri Miko, ia menyandarkan kepala miko di bahunya. Saat ini Miko pasti sangat terpukul. Penyesalan dan kesedihan yang ia alami akan sangat berat jika harus Miko tanggung sendiri. Setelah Miko bisa menyadarkan diri, Ismi membawakan makan untuk Miko. Miko bersyukur disaat seperti ini Ismi masih ada untuknya. Ia sama sekali tidak menyalahkan Miko meskipun kenyataannya Miko bersalah. Jam 8 malam, Miko pamit dari rumah Ismi, ia tidak bisa pulang malam karena Marsya tidak akan tidur sebelum Miko pulang.

Dan benar saja, ketika Miko sampai di rumah, Marsya masih menonton tv bersama keluarganya. Kehadiran Marsya membuat suasana dirumahnya berubah. Semenjak ada Marsya, ayahnya tidak lagi bersikap dingin padanya, setidaknya ketika di depan Marsya ayahnya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa antara ia dan Miko.

Miko membawa Marsya ke kamar untuk menidurkannya.

Marsya : Ayah, apa pekerjaan ayah hari ini berat ?

Miko    : Berat, sangat berat. Tapi untungnya ayah melihatmu dirumah, jadi semua beban ayah menghilang.

Marsya : Kenapa ?

Miko    : Karena Marsya, malaikat ayah. Yang memberikan energy besar untuk ayah,

Marsya : Benarkah ?

Miko    : Tentu saja. Sayang, ayah minta maaf selama ini selalu membuat Marsya sedih. Dan juga terimakasih, sudah menjadi malaikat kecil ayah.

Marsya : Iya ayah, tapi ayah tidak pernah membuat Marsya sedih. Ayah adalah ayah yang paling hebat untuk Marsya.

Miko    : Terimakasih sayang. Oiya . . . apa kamu sering merindukan ibu ?

Marsya : Ibu ? Sering. Setiap malam. Marsya selalu penasaran dengan ibu, bagaimana wajahnya, tubuhnya, kulitnya,bicaranya. Tapi berkat Dara, sekarang Marsya bisa melihat ibu. Kata Dara, ibu ada dilangit sana, Marsya harus mendoakannya agar ia menjadi bintang yang paling terang. Dengan begitu, Marsya bisa melihatnya setiap malam.

Miko    : Dara ? Ayah belum bertemu lagi dengannya.

Marsya : Kenapa ? Apa ayah rindu Dara ?

Miko    : Rindu ? Tentu saja tidak, untuk apa merindukannya.

Marsya : Tapi aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya, ingin makan masakannya. Ayah tahu dimana dia sekarang?

Miko    : Ayah tidak tahu dimana dia sekarang.

Marsya : Bisakah ayah mencarinya ?

Marsya tidur setelah Miko berjanji akan mencarikan Dara. Walaupun sebenarnya tanpa Marsya suruh, Miko akan tetap mencari Dara. Tapi tidak sekarang, ia masih belum punya kepercayaan diri untuk datang pada Dara. Miko ingin memperbaiki hubungan dengan ayahnya lalu menjadi ayah yang baik bagi Marsya. Dengan begitu, ia mempunyai kepercayaan diri untuk bertemu dengan Dara.

Dan Dara, ia juga sedang memikirkan Miko dan Marsya. Dara merindukan Marsya. Baginya, Marsya bukan hanya sekedar anak yang ia asuh, Dara sudah menganggap Marsya sebagai anaknya. Walau baru 3 hari belum bertemu, tapi bagi Dara sudah seperti berhari-hari. Dara juga mengingat Miko, ia pergi tanpa sepatah katapun pada Miko. Apa Miko sekarang mencarinya ? Tapi mungkin tidak, Jika Miko mencarinya, ia pasti mencari Dara kerumah karena Miko memegang KTPnya. Tapi sampai sekarang Miko tidak juga datang. Mungkin Dara memang seharusnya tahu diri, tidak mungkin Miko akan mencarinya.Ia hanya seorang pengasuh, dan  Miko tidak akan menganggapnya lebih dari itu. Miko seorang actor, sementara Dara seorang perempuan gagal. Meskipun Dara tahu semuanya tidak mungin, tetap saja Dara sekarang ingin bertemu dengan Miko, ia merindukan Miko.

Tiba-tiba Ibu memanggilnya, ia menyuruh Dara keluar kamar karena ada Rifky datang. Dara segera keluar dari kamar dan menemui Rifky.

Dara    : Rifky, ada apa datang kesini malam-malam ?

Rifky    : Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu ? Tiba-tiba menghilang dan nomor telpon tidak aktif.

Dara    : Aku. . Sebenarnya aku sudah berhenti kerja.

Rifky    : Berhenti, kenapa begitu mendadak ? Apa terjadi sesuatu ?

Dara    : Keluarga Miko sudah tahu tentang Marsya, jadi aku berhenti karena Marsya sudah ada yang merawat.

Rifky    : Benarkah ? Syukur kalo gitu. Setidaknya sekarang kamu tidak perlu berbohong pada orang lain lagi tentang Marsya.

Dara    : Seharusnya aku bersyukur, karena terbebas dari kekangan orang itu. Orang yang semena-mena, keras kepala dan tidak pernah peduli pada orang lain. Tapi kenyataannya, aku merasa kehilangan mereka berdua. Aku ingin memasak lagi untuk Marsya, bermain, tertawa dan pergi ketempat yang kami suka berdua. Aku juga ingin bertemu dengan orang itu, lebih baik aku bertemu dan bertengkar dengannya setiap hari, daripada tidak bertemu seperti sekarang.

Rifky tersenyum mendengar cerita Dara,

Rifky    : Kamu menyukainya ?

Dara    : Apa, suka ? Tidak mungkin. Mana mungkin aku menyukai pria arogan sepertinya. Itu tidak mungkin !

Rifky    : Sudahlah, kamu tidak pandai berbohong. Apa harus aku katakan jika di keningmu bertuliskan Dara menyukai Miko.

Dara memegang kening dan meraba dengan tangannya.

Dara    : Mana, tidak ada apa-apa. Sudahlah jangan mengada-ngada.

Rifky    : Hahaha, kalau tidak suka kenapa jadi salah tingkah seperti itu.

Dara    : Siapa yang salah tingkah, aku bersikap biasa saja.

Rifky    : Sudahlah, tidak perlu di perpanjang, percuma saja karena kamu akan tetap menyangkal.

Dara dan Rifky mengobrol cukup lama didalam rumah. Dara memang selalu merasa nyaman berada di dekat Rifky. Rifky selalu memasang telinganya untuk mendengarkan cerita Dara. Dara merasa ia benar-benar beruntung mempunyai teman seperti Rifky. Setidaknya sekarang ia mempunyai beberapa orang yang benar-benar bisa menjadi temannya.

Pagi hari Miko sarapan bersama keluarganya, ini juga untuk pertama kalinya ia sarapan bersama ayahnya lagi. Selesai sarapan, Miko mendatangi ayah di ruang kerjanya.

Ayah    : Ada apa ?

Miko    : Aku ingin bicara dengan ayah,

Ayah    : Bicara, sejauh ini jika kau ingin bicara denganku, pasti itu sebuah masalah baru !

Miko tidak menghiraukan sindiran ayah pada dirinya, ia tetap melanjutkan topik pembicaraannya.

Miko    : Ayah, Aku ingin berterimakasih pada ayah.

Ayah    : Terimakasih, apa aku tidak salah dengar ?!

Miko    : Aku tahu, kau sangat menyayangiku. Ribuan kata dan amarah yang kau lontarkan untukku, itu tidak membuat rasa sayangmu berkurang. Ayah, terimakasih sudah menerima Marsya sebagai cucumu. Bahkan kau menyayangi dia tanpa melihat kesalahanku. Aku sangat berterimakasih.

Ayah    : Meskipun aku tidak menyukaimu, tapi Marsya, dia masih darah dagingku.

Miko    : Ya, benar. Ayah membenciku dan Aku tidak akan meminta ayah memaafkanku. Kesalahanku terlalu banyak. Aku terus menerus membantah perkataanmu, dan sekarang, sudah mencoreng nama baikmu. Tapi ayah, suatu saat, aku akan mengambil Marsya dari ayah dan menjadikannya anakku seutuhnya. Setelah aku memantaskan diri menjadi seorang ayah yang baik. Dan seperti katamu, sebelum aku menjadi seorang ayah yang baik, aku harus menjadi seorang anak yang baik lebih dulu. Karena itu, aku mohon pada ayah, untuk menunggu sampai aku pantas untuk mengambil Marsya darimu.

Ayah    : Kau, dasar anak nakal. Sekarang kau sudah mulai dewasa, setidaknya kau sudah mulai berfikir untuk menjadi orang yang lebih baik. Baiklah, segera datang kesini untuk menjemput anakmu.

Miko    : Ayah, terimakasih.

Setelah Miko pergi, ayah tidak bisa lagi menyembunyikan keharuannya, ia menitikkan air mata. Untuk pertama kalinya Miko mengatakan terimakasih padanya. Seorang ayah, meskipun terlihat membenci anaknya, tapi pada kenyataannya ia tidak pernah benar-benar membenci anaknya. Begitu pula dengan ayah Miko, ia tidak pernah benar-benar membenci Miko.

Miko pamit pada ibu, Arin dan Marsya. Ia akan kembali ke rumahnya, menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena masalah pribadi. Miko mengingat janjinya pada Marsya,

“ Ayah berjanji ayah akan membawa Dara untuk Marsya. Besok ayah akan mulai mencarinya. Dan ayah juga tidak akan pulang sebelum ayah membawa Marsya. Karena itu, Marsya harus jadi anak yang baik untuk nenek dan kakek. Mereka semua sayang Marsya. Jadi Marsya, tunggulah ayah pulang.”

PART 21 (END)

No comments:

Post a Comment