Friday, 3 July 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 21-END)

  Part 20 

  21. DARA,PLEASE BE MY MOM !             

Miko kembali menjalani perkerjaannya seperti biasa, ia berangkat syuting setiap hari dengan Ismi. Tapi kali ini berbeda, Ismi tidak pernah lagi membangunkan Miko, karena saat Ismi datang ke rumah Miko, Miko sudah bangun dan siap berangkat ke lokasi. Meskipun ini perubahan baik dari Miko, tapi Ismi merasa sedikit kurang nyaman. Sekarang Miko lebih professional dan jarang bercerita masalah pribadi padanya. Miko juga tidak pemarah dan keras kepala seperti dulu. Hal itu membuat jarak Ismi dan Miko tidak sedekat dulu.


Sedangkan Dara, ia bukan tidak mau bertemu dengan Miko dan Marsya. Tapi ia berfikir jika ia menemui Miko sekarang, itu hanya akan membuatnya malu karena Dara belum membayar sisa hutangnya dan ia tidak ingin Miko menganggapnya bermuka tebal karena setelah apa yang dialami Dara, Dara tetap berada dibelakang Miko. Dara ingin ketika ia bertemu dengan Miko, ia sudah tidak punya alasan yang membuatnya malu sehingga Dara bisa tampil percaya diri di depan Miko. Karena itu ia mulai memperbaiki dirinya. Ia lebih rajin membantu ibunya, bukan hanya membantu membuat kue, tapi Dara juga mulai memasarkan kue ibunya ke luar pasar. Pagi sebelum berangkat ke pasar, ia banyak menitipkan kue nya ke warung-warung di sekitar rumahnya. Dan tentu saja itu membuat penghasilan ibunya lebih banyak. Tidak sampai disitu, Dara juga masih belum mengaktifkan ponselnya. Ia tidak mau terlalu berharap Miko akan menghubunginya jika ia mengaktifkan ponsel. Karena itu lebih baik ia mematikannya, setidaknya itu membuat Dara lebih tenang dan tidak banyak berharap pada Miko.

Hari ini, Dara akan mengantar ibu ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan ibu. Semenjak menikah Dara memang selalu rutin membawa ibunya mengecek kesehatan ibunya ke dokter. Dan sekarang adalah untuk pertama kalinya ia membawa ibunya check up setelah beberapa bulan absen karena masalah pribadinya.

Setelah diperiksa, kesehatan ibu sangat baik. Ditambah lagi akhir-akhir ini ibu tidak terlalu lelah dan juga tidak stress, itu sangat berpengaruh baik pada kesehatannya. Dara senang ibunya baik-baik saja, bahkan sangat baik. Ia dan ibu keluar dari ruang pemeriksaan. Ketika Dara sampai di lobi rumah sakit, Dara melihat pria yang mirip dengan Miko keluar dari mobil. Ia memakai kemeja biru dan celana hitam. Bajunya sangat formal, dan itu bukanlah gaya berpakaian Miko. Dara mengucek matanya untuk memastikan bahwa yang dilihatnya itu bukan Miko. Tapi ternyata itu benar-benar Miko. Tidak lama setelah Miko keluar dari mobil, Ismi menyusulnya.

Saat itu Ismi melihat Dara, ia pun mengejar Miko dan merangkul tangannya agar terlihat oleh Dara. Pemandangan itu membuat Dara cemburu. Dara berbalik berharap Miko tidak melihatnya. Tadinya ia senang karena bertemu secara tidak sengaja dengan Miko, tapi melihat Miko yang datang dengan Ismi membuat Dara sadar. Dara berfikir mungkin Miko memang tidak pernah datang mencarinya.

Ditempat yang tidak terlalu ramai, Miko melepaskan tangan Ismi.

Ismi      : Kenapa ?

Miko    : Aku hanya tidak enak, akan banyak berita miring melihat kita sedekat ini.

Ismi      : Kenapa kamu sangat takut ? Diluar pekerjaan, kita ini teman. Teman yang sangat akrab. Jadi untuk apa tidak enak? Salahmu sendiri tidak mengatakan keperluanmu datang ke rumah sakit, jadi terpaksa aku ikut. Aku tidak mau mendengar hal aneh setelah kepulanganmu dari sini.

Miko    : Baiklah-baiklah. Aku minta maaf. Kamu benar, kita memang teman, jadi tidak perlu takut.

Sepulang dari rumah sakit, Dara dan ibu mengunjungi ayah di LP. Ayahnya yang sudah 13 tahun berada di LP, dan setahun lagi ia akan keluar. Dara sudah tidak sabar menanti ayahnya keluar dari sana dan kembali memulai kehidupan mereka yang baru.

Setelah seharian keluar dengan ibunya. Dara menyuruh ibu istirahat, lalu ia pergi kekamar. Dara mengingat pertemuannya dengan Miko di rumah sakit. Apa benar Dara terlalu berharap pada Miko ? selama ini Dara memang membohongi dirinya bahwa ia berusaha untuk tidak berharap. Dara mengambil ponselnya, ia mencoba mengaktifkan kembali ponselnya. Sekarang percuma meskipun Dara tidak mengaktifkan ponsel, Miko tidak akan mencarinya. Dan benar saja, satu pesanpun tidak ada dari Miko. Miko melihat galeri di ponselnya. Ia melihat foto Miko dan Marsya ketika mereka berada di Mall. Dara memang mengambil foto Miko tanpa sepengetahuan Miko. Dara tersenyum melihat foto-foto mereka. Dara berfikir mungkin seharusnya ia mulai melupakan Miko, ia harus segera bangun dari mimpi nya dan menghadapi kenyataan. Dara menyimpan ponselnya lalu pergi ke dapur untuk membuat kue yang besok akan ia jual.

Jam 10 malam, Miko selesai syuting. Ia mengajak Ismi untuk minum kopi di kafe langganan mereka. Miko sengaja mengajak Ismi karena ia ingin membicarakan tentang karirnya pada Ismi.

Miko    : Sebenarnya, aku mengajakmu kesini karena ada yang ingin aku katakan,

Ismi      : Ada apa ? Tumben, biasanya juga langsung ngomong aja ga pernah ngajak minum kopi segala.

Miko    : Film ini, akan jadi film terakhirku.

Ismi      : Maksudmu ?

Miko    : Aku akan berhenti. Dan keperluanku tadi ke rumah sakit karena aku ingin bergabung disana sebagai dokter.

Ismi      : Kamu mimpi ? Atau mungkin mabuk ?

Miko    : Aku dalam keadaan sadar sekarang, aku sudah merencanakan semuanya. Maafkan aku baru mengatakan hal ini. Tapi aku ingin memulai hidup baru, menjadi Miko yang bisa di berguna untuk ayah sehingga bisa layak menjadi seorang ayah.

Ismi      : Tapi kenapa harus berhenti ? karirmu sekarang sangat bagus, banyak yang berharap bisa bernasib baik seperti dirimu tapi mereka tidak bisa. Dan kamu malam ingin melepaskannya begitu saja.

Miko    : Ini sudah keputusanku. Aku fikir, Marsya dan keluargaku lebih penting daripada karirku. Dan kamu, lanjutkan mimpimu menjadi seorang pengacara. Aku tahu kamu sangat ingin menjadi pengacara sejak dulu. Jauh sebelum aku memutuskan menjadi seperti sekarang. Terimakasih, selama ini kamu selalu ada di sisiku, menemaniku dalam suka dan duka. Kamu adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selalu menyemangatiku ketika aku harus berjuang sendiri. Aku juga minta maaf karena selama ini sudah menyia-nyiakan waktumu.

Ismi      : Aku mengerti dengan alasanmu. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mendukungmu. Aku juga tidak merasa semuanya sia-sia. Aku bahagia, setidaknya selama aku menjadi managermu, aku bisa tetap bersama denganmu, melihat wajahmu setiap hari dan tidak perlu cemas karena mengkhawatirkanmu. Kebersamaan denganmu lebih berharga jika dibandingkan dengan masa depanku.

Miko    : Maksudmu ?

Ismi      : Aku menyukaimu.

Miko    : Tentu saja aku juga menyukaimu, kau ini sahabat terbaikku.

Ismi pergi dari kafe karena Miko tidak juga mengerti apa yang ia katakan. Miko mengejar Ismi.

Miko    : Kamu kenapa ?

Ismi      : Miko !! Aku menyukaimu lebih dari sahabat. Aku menyukaimu sebagai seorang wanita pada pria. Aku menyukaimu sejak kau bukan seorang yang diketahui orang. Aku menyukaimu meskipun kau selalu mempermainkan wanita tepat didepanku. Aku menyukaimu meskipun aku tahu kau mempunyai seorang anak. Aku bahkan menyukai semua yang ada pada dirimu. Apa selama ini kau tidak mengerti hal itu ?!!

Miko memeluk Ismi kedalam dekapannya.

Miko    : Aku minta maaf. Aku benar-benar bodoh tidak menyadari perasaanmu sejak awal. Aku benar-benar bodoh tidak pernah menganggapmu sebagai wanita. Seandainya aku tahu, aku tidak akan mempermainkan wanita di hadapanmu, aku tidak akan begitu terbuka menceritakan semua hal yang aku alami padamu. Dan aku, seandainya aku tahu. Aku tidak akan membuatmu lebih menyukaiku. Maafkan aku, yang hanya menganggapmu sebagai sahabatku.

Ismi      : Kenapa kau tidak menganggapmu sebagai wanita. Aku cantik, pintar, mapan dan juga bisa menerimamu apa adanya.

Miko    : Itulah kenapa aku hanya bisa menganggapmu sebagai sahabatku. Kau terlalu sempurna. Kau cantik, pintar, mapan dan bisa menerimaku. Sedangkan aku, hanya seorang pria bodoh yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Aku minta maaf, selama ini membuatmu sangat kesepian karena mengharapkanku.

Ismi      : Lalu, jika aku terlalu sempurna, apa Dara wanita yang pas untukmu ?!

Miko    : Dara, dia memang tidak terlalu cantik, tidak terlalu pintar dan tidak mapan. Dia juga mungkin tidak bisa menerima semua kekuranganku. Tapi Dara, dia membuatku berfikir dan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.

Ismi      : Miko . . . Kenapa kau begitu tega. Kau baru mengenal Dara beberapa saat, tapi sudah menyukainya. Sedangkan aku, kau sudah mengenalku sejak lama. Tidak bisakah kau membuka hatimu untukku ?

Miko    : Dara, meskipun aku belum sangat mengenal dia, meskipun aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Tapi Dara, dalam waktu singkat, dengan kesederhanaannya dia bisa membuatku berfikir. Berfikir untuk menjadi orang yang lebih baik. Aku minta maaf.

Ismi      : Miko. . .

Miko    : Maaf, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik.

Ismi      : Tunggu . . ! Jika mungkin, suatu saat. Dara tidak menerimamu, kembalilah padaku. Karena aku. . . Akan ada untukmu.

Miko    : Meskipun Dara tidak menerimaku, aku tetap tidak bisa pergi padamu. Kau tidak pantas untuk aku jadikan pelampiasan. Kau sangat cantik, carilah pria yang lebih baik dariku. Berhentilah menjadi orang yang menyedihkan karena mengharapkan aku yang bodoh ini.

Miko akan pergi meninggalkan Ismi yang masih berdiri terpaku. Sebelum pergi, Miko memberhentikan taksi untuk Ismi. Dia menuntun Ismi masuk kedalam taksi dan berkata pada pengemudi taksi.

Miko    : Pak, tolong antarkan teman saya. Pastikan dia selamat sampai rumah. Terimakasih.

Miko pergi setelah taksi Ismi pergi. Ia masuk mobil dan menundukan kepalanya. Menyesali kebodohannya pada Ismi. Menyesali sikapnya yang membuat Ismi sangat terluka. Tapi ia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang sudah terlanjur menyukai Dara.

Satu bulan kemudian. Miko sudah menyelesaikan filmnya, meskipun belum sepenuhnya ia berhenti karena harus promo film ketika perilisan filmya. Miko juga sudah mulai bekerja di rumah sakit. Ia sengaja tidak bekerja di klinik karena kemampuannya masih sangat minim, karena itu ia memulai semuanya dari awal dan menjadi dokter junior yang banyak belajar dari dokter lain. Tapi Miko tetap tidak ingin bekerja di klinik ayah Miko. Miko ingin memulai karirnya sebagai dokter tanpa ada nama ayahnya dibelakang. Ia ingin kesuksesan yang diraihnya murni berkat usaha sendiri. Lagipula menurut Miko, Arin lebih bisa diandalkan untuk melanjutkan klinik ayahnya. Arin lebih bersemangat, ia bukan hanya seorang dokter, tapi Arin juga bisa mengelola Klinik dengan cukup baik.

Marsya, dia sudah mulai masuk sekolah sejak dua minggu yang lalu. Ayah Miko selalu bersemangat mengantar jemput Marsya. Hal itu membuat kesehatan ayah semakin baik karena ia lebih banyak tertawa. Ia terhibur dengan adanya Marsya. Meskipun keinginannya agar Miko melanjutkan kliniknya tidak tercapai, tapi setidaknya sekarang Miko sudah menjadi seorang dokter. Itu sudah lebih dari cukup daripada Miko menjadi seorang artis.

Sementara Ismi. Ia memulai karirnya sebagai pengacara, ia juga kembali melanjutkan kuliah S2 yang dulu sempat tertunda. Meskipun belum sepenuhnya bisa melupakan Miko, tapi Ismi tidak ingin berlarut dengan perasaannya. Ia mulai membuka diri pada pria di sekitarnya. Dan memang benar apa yang dikatakan Miko,Ismi sangat cantik hingga akan banyak pria yang tertarik padanya. Baru 2 minggu ia bekerja, sudah ada beberapa pria yang mendekatinya di kantor.

Miko sedang istirahat makan siang, Ia mendapat pesan dari Dara.

“ Aku ingin bertemu denganmu. Apa kamu ada waktu ?”

“ Sore ini kita bisa bertemu,”

“ Baiklah. Aku akan datang kerumahmu,”

Sore harinya, Miko bersiap-siap dirumahnya. Ia mengecek satu persatu bagian rumahnya agar terlihat sangat rapi. Meskipun pembantunya sudah membereskan rumah Miko, tapi Miko ingin memastikan agar Dara merasa nyaman berada dirumahnya. Ia bolak-balik mengganti bajunya. Baju yang santai tapi tetap menarik. Hari ini untuk pertama kalinya lagi ia bertemu dengan Dara. Dan ia ingin membuat kesan yang sangat baik untuk Dara.

Miko memang belum berencana untuk menemui Dara, karena ia bahkan belum satu bulan bekerja di rumah sakit. Miko ingin saat ia menemui Dara, ia sudah bisa di andalkan Dara.  Dan tepat jam 5, Dara datang. Miko menarik nafas dalam mempersiapkan diri untuk bertemu Dara.

Miko    : Hai. Apa kabar ?

Dara    : Baik. Kamu sendiri ?

Miko    : Baik, silahkan masuk .

Dara    : Kemana Marsya ?

Miko    : Dia masih berada dirumah neneknya. Silahkan duduk, mau minum apa ?

Dara    : Tidak perlu, aku tidak akan lama. Aku akan langsung saja. Ini . . . Sisa hutangku,

Miko    : Sisa hutang ? Jadi kamu kesini untuk membayar hutang ?

Dara    : Tentu saja, memangnya untuk apa lagi. Aku juga ingin mengambil kembali KTP ku. Sebulan ini aku tidak bebas pergi keluar karena tidak memegang KTP.

Miko    : KTP ?! Baiklah, tunggu sebentar akan aku ambilkan.

Miko tidak ingat dengan hutang Dara maupun KTPnya. Ia menyesal tidak mengingat dua hal itu, setidaknya jika ia ingat, ia bisa menemui Dara untuk alasan itu. Tidak berapa lama, Miko kembali ke ruang tamu menemui Dara.

Miko    : Ini. Dan uang itu. Ambil saja. Aku sudah melupakan hutangmu.

Dara    : Tapi hutang tetaplah hutang. Aku ingin membayarnya, sehingga kita sudah tidak punya urusan apapun lagi. Meskipun mungkin kamu sudah melupakan semuanya.

Miko    : Maksudku bukan begitu. Aku tidak melupakanmu. Aku hanya tidak mengingat hutang itu.

Dara    : Tidak perlu memberiku alasan apapun untuk membuatku mengerti. Aku pergi sekarang. Permisi .

Miko    : Tunggu. Kenapa harus pergi sekarang ? Kamu baru saja duduk. Sebaiknya minum dulu. Aku akan mengambilkannya.

Dara    : Tidak perlu. Terimakasih untuk tawarannya. Aku pergi.

Dara pergi meninggalkan rumah Miko. Miko melihat kepergian Dara. Apapun yang sudah Miko persiapkan terbuang percuma karena ternyata Dara bersikap dingin padanya. Lalu Miko melihat Rifky menjemput Dara tepat didepan rumahnya. Miko berfikir mungkin Dara bersikap dingin padanya karena ia tidak menyukainya dan sekarang sudah mempunyai seseorang disampingnya.

Dara    : Seharusnya kamu tidak perlu menjemputku. Aku bisa pulang sendiri.

Rifky    : Tidak apa-apa. Lagipula aku sedang tidak sibuk.

Dara    : Kalau kamu terus jadi supir seperti ini, bagaimana bisa dapat pacar.

Rifky    : Pacar? Sebaiknya pertanyaan itu kamu katakan pada diri sendiri.

Dara    : Maksudmu ?

Rifky    : Kalau kamu terus memendam perasaanmu, bagaimana bisa pacaran.

Dara    : Kamu ini ! Aku bukan memendam, tapi tahu diri.

Rifky    : Kamu bukan tahu diri, tapi sok tahu ! Miko dan Ismi itu artis dan manager, tentu saja mereka sangat dekat. Kamu tidak bisa langsung berfikir mereka berpacaran.

Dara    : Kedekatan mereka bukan hanya karena pekerjaan, Ismi dan Miko juga sudah bersahabat sejak lama. Jadi bukan mustahil jika mereka memang berpacaran. Sudah sudah. . . aku tidak ingin membahas masalah itu lagi.

Rifky    : Jangan marah dong. Kalo marah, tuanya keliatan banget.

Dara    : Dasar kamu ini. Oiya , apa mungkin kamu sekarang sedang dekat dengan seseorang?

Rifky    : Emang kenapa ? Cemburu ?!

Dara    : Enak aja. Tapi siapa perempuan itu ?

Rifky    : Kamu juga kenal dia.

Dara    : Kenal ? Siapa teman perempuanmu yang aku tahu.

Rifky    : Masa ga tahu, dia bahkan meminta nomor hp mu.

Dara    : Nomor hp ? Kapan ?

Rifky    : Beberapa minggu yang lalu. Oh iya, tepat ketika kamu berhenti kerja. Dia bilang ada sesuatu yang penting. karena itu meminta nomor telponmu.

Yang Dara ingat, satu-satunya perempuan yang menelpon Dara saat itu hanya Arin. Tapi Dara juga tidak tahu darimana Arin mendapatkan nomor telponnya. Apa mungkin Arin adalah perempuan yang dimaksud Rifky.

Dara    : Apa perempuan itu Arin ?

Rifky    : Yah benar. Itu kamu tahu.

Dara    : Kamu kenal dia darimana ?

Rifky    : Diseminar, kamu sendiri ?

Dara    : Aku tidak terlalu mengenal dia, hanya bertemu beberapa kali. Tapi dia cukup cantik menurutku dan cocok denganmu.

Rifky    : Selain cantik, dia juga pintar dan lucu. Meskipun penampilannya elegan, tapi dia tidak sombong seperti wanita lainnya.

Dara    : Syukurlah. Akhirnya kamu bisa menemukan seseorang yang kamu cari.

Rifky    : Bahkan besok malam aku akan makan malam dengan keluarganya.

Dara    : Benarkah ??!!

Rifky    : Kenapa ? Apa ada sesuatu ?

Dara    : Tidak apa-apa. Hanya saja . . . Semoga acara besok lancar.

Miko diam menonton tv. Ia masih kesal melihat Dara yang masuk ke mobil Rifky. Persiapannya untuk menemui Dara berakhir dengan sia-sia. Dara sudah bersama orang lain sekarang, dan Miko sudah tidak bisa mengharapkan Dara lagi. Tiba-tiba ponselnya berdering, Arin menelponnya.

Miko    : Ada apa ?

Arin     : Besok ada acara makan malam. Abang ikut yah.

Miko    : Makan malam ? Kenapa harus ikut, males ah.

Arin     : Bang. Makan malamnya sama orang special. Dan aku ingin abang ikut.

Miko    : Abang sibuk. Tidak mau !

Arin     : Aku ga mau tahu, pokoknya abang harus ikut

Miko    : Ya sudah. Jam berapa ?

Arin     : Pokoknya besok sore abang wajib kerumah.  

Miko menutup telpon Arin. Ia sedang kesal dengan Dara, sekarang Arin mengundang makan malam bertemu dengan orang special. Kedua hal itu membuat mood Miko benar-benar buruk.

Esoknya Rifky bersiap datang ke acara makan malam dengan keluarga Arin. Rifky memang belum resmi berpacaran dengan Arin, tapi itu bukan masalah baginya. Status bukan masalah baginya selama ia yakin dengan perasaan Arin. Rifky berharap dari makan malamnya ini, ia bisa lebih mengenal dekat Arin dan keluarganya. Dan tentunya ia juga ingin keluarga Arin mengenal dan menumbuhkan kepercayaan orang tua Arin padanya.

Jam setengah 7 Rifky berangkat dari rumahnya, 25 menit kemudian, ia sudah sampai di rumah Arin. Security sudah tahu bahwa hari ini akan ada tamu untuk Arin, jadi ketika Rifky datang, mereka langsung membukakan gerbang. Rifky memencet bel rumah, tak lama Arin membuka pintu.

Rifky    : Hai, aku tidak terlambat kan ?

Arin     : Tidak.Yuk masuk, ibu dan ayah sudah menunggu didalam.

Arin membawa Rifky masuk ke ruang keluarga. Sebelum duduk, Rifky terlebih dulu memberi salam pada kedua orang tua Arin.

Rifky    : Selamat malam, om tante. Perkenalkan saya Rifky. Temannya Arin.

Ibu       : Iya Nak Rifky. Silahkan duduk.

Rifky    : Terimakasih tante.

Ayah    : Om dengar, kamu juga dokter. Dimana prakteknya ?

Rifky    : Di RSUD om, tapi dulu sempat juga praktek di klinik om sewaktu masih kuliah.

Ibu       : Benarkah ?

Rifky akan menjawab pertanyaan Ayah Arin, tapi terdengar suara Miko dari belakang.

Miko    : Rin, tamu specialnya udah dat……

Kata-kata Miko berhenti ketika ia melihat tamu special yang dimaksud Arin adalah Rifky. Rifky juga tidak berbeda dengan Miko. Ia kaget bahwa Miko adalah saudara Arin. Miko tidak bisa diam saja, difikirannya Rifky adalah kekasih Dara, tapi sekarang ia datang sebagai calon kekasih Arin. Membayangkan dua wanita yang Miko sayangi dipermainkan Rifky. Miko mendatangi Rifky dan menyeretnya keluar rumah. Setelah sampai di luar rumah, tanpa basa basi Miko meninju wajah Rifky.

Rifky    : Apa-apaan ini ?

Miko    : Apa-apaan ? Dasar bajingan gila. Bisa-bisanya kau membodohi adikku.

Rifky    : Membodohi ? Maksudmu ? Aku tidak mengerti !

Miko    : Jangan pura-pura tidak mengerti !

Rifky    : Aku benar-benar tidak mengerti. Aku sama sekali tidak membohongi siapapun !

Miko    : Kau fikir aku tidak tahu hubunganmu dengan Dara ?!

Rifky    : Dara ? Oh, jadi maksudmu hubunganku dengan Dara ? Haha

Miko    : Kau fikir ini lelucon.

Rifky    : Bukan, bukan. Aku tidak berfikir ini lelucon. Aku hanya tidak menyangka kau akan berfikir sampai sejauh itu.

Miko    : Jangan pernah berani mempermainkan Dara !

Rifky    : Dara ? Sebenarnya kau peduli pada adikmu atau Dara ?

Miko    : Mereka berdua bukan orang yang bisa kau permainkan.

Rifky    : Aku bisa mengerti jika kau marah dan berusaha melindungi Arin. Tapi Dara, apa alasanmu ? Kau sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan dia. Dan yang sudah mempermainkan Dara bukan aku, tapi kau !

Miko    : Kau, jangan coba mengecohku. Kenapa aku mempermainkan Dara ?!

Rifky    : Dengar. Tentang Arin, kau tidak perlu khawatir, ia sudah tahu aku kenal dekat dengan Dara, ia bahkan sudah tahu bahwa saat ini aku sedang mencoba menghibur Dara dari semua nasib buruk yang ia alami karena dirimu !

Miko    : Aku tidak pernah mempermainkan Dara, dan nasib buruknya, kenapa semua karena aku !

Rifky    : Sepertinya kau belum mengerti, Dara bukan hanya dipecat dari pekerjaannya, ia juga mendapat hinaan dari ibumu. Ibumu sudah membuka luka lama Dara yang sudah susah payah ia kubur. Ibumu juga menuduh Dara sebagai penipu yang sudah mempermainkanmu. Dan setelah semua yang terjadi pada Dara, ia selalu berharap kau akan datang untuk meminta maaf atas semua perlakuan dan tuduhan ibumu. Tapi kau ? Meskipun kau tidak menyukainya, seharusnya kau datang, untuk berterimakasih sekaligus meminta maaf padanya.

Miko    : Mengapa Dara berfikir aku tidak menyukainya ?!

Rifky    : Jika kau menyukai Dara, kau tidak akan bermesraan di depan Dara.

Miko    : Kapan ?

Rifky    : Jika kau ingin mendapatkan jawabannya, tanyakan sendiri pada Dara !! Aku harus masuk kedalam, Arin dan orang tuamu pasti menunggu lama.

Rifky masuk kedalam rumah, sementara Miko masih berdiri di depan pintu. Arin yang mendengar percakapan Miko dan Rifky dari balik pintu segera berlari begitu Rifky akan masuk.

Dan saat makan malam, Miko lebih banyak diam. Ia memikirkan perkataan Rifky tentang Dara. Miko melihat ibunya, Ibu yang Miko kenal sangat lembut dan penyayang, lalu benarkah ibunya sejahat itu, berkata buruk dan menuduh Dara seorang penipu ?! Apakah itu pula sikap yang ditunjukan ibu pada Indri ?!

Miko tidak ikut acara makan malam, ia pamit pada orang tuanya dan berkata ada urusan mendesak. Lalu Miko langsung pergi kerumah Dara, sesampainya disana ia menelpon Dara.

Dara    : Ada perlu apa kau menelponku malam-malam ?

Miko    : Aku ada didepan rumahmu. Keluarlah !

Miko menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Dara. Lima menit kemudian, Dara keluar dari rumahnya.

Dara    : Ada apa ?

Miko tidak menjawab pertanyaan Dara, ia masih diam menatap Dara.

Dara    : Jika tidak ada hal penting, pergilah. Aku sibuk !

Dara berbalik akan pergi meninggalkan Miko, tapi Miko dengan cepat memegang tangan Dara, lalu mendekap Dara yang sudah membelakanginya. Dara diam tidak menyangka Miko akan memeluknya dari belakang seperti ini. Beberapa saat kemudian, ia sadar dan mencoba melepaskan tangan Miko. Tapi tangan Miko sangat kuat memeluknya.

Miko    : Diamlah, diamlah untuk saat ini.

Dara berhenti mencoba melepaskan tangan Miko. Ia kembali diam seperti yang dikatakan Miko.

Miko    : Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkanmu melewati semua ini sendiri. Aku terlalu bodoh hingga tidak menyadari bahwa kau sangat terluka.  

Miko membalikan tubuh Dara sehingga mereka berdua berhadapan. Mereka saling menatap dalam diam. Miko perlahan menundukan wajahnya mendekati wajah Dara, lebih dekat dan semakin dekat. Dan ketika wajah mereka sangat dekat, Miko mencium kening Dara.

Dara memejamkan matanya yang meneteskan airmata. Miko menyusut air mata Dara dengan tangannya. Dalam fikiran Dara, apakah ini kenyataan atau hanya sebuah mimpi. Dara berbicara pada diri sendiri.

Dara    : Kenapa mimpi ini seperti sangat nyata ?

Miko    : Ini memang nyata, bukan sebuah mimpi.

Miko mencium bibir Dara, dan hal itu membuat Dara membuka matanya. Kini ia menyadari bahwa ini memang benar-benar bukan mimpi. Miko berada di hadapannya sekarang, datang menemuinya. Miko benar-benar peduli padanya, bukan hanya menganggap dirinya pengasuh Marsya. Dan Miko juga, menyukainya.

Miko dalam perjalanan pulang kerumahnya, ia tersenyum mengingat obrolannya dengan Dara. Dara yang telah salah paham dan menganggap Ismi adalah kekasih Miko. Miko memegang bibirnya dan masih merasakan ciumannya dengan Dara. Malam ini menjadi salah satu malam terindah bagi Miko. Miko juga ingat permintaan Dara, jika Miko ingin berhubungan dengan Dara, Miko harus lebih dulu meminta restu pada ibunya. Karena Dara tidak ingin ada orang lain yang tidak merestui hubungan mereka, terlebih lagi jika orang itu adalah orangtua Miko. Miko melihat sudah jam 11. Ia menelpon Arin lalu menanyakan Ibu dan  Marsya. Karena mereka sudah tidur, Miko memutuskan untuk datang besok sore. Miko pun langsung pulang kerumahnya.

Begitu pula Dara, ia sudah mendengar penjelasan Miko tentang kesalah pahaman nya pada Ismi. Miko juga memberitahukan alasan bahwa Miko ingin mendatangi Dara ketika ia sudah mempersiapkan diri dengan baik. Dara tersenyum dan memegang bibirnya. Ia tidak menyangka Miko akan begitu menyukainya hingga berusaha mempersiapkan diri hanya untuk datang pada Dara. Dan sekarang Dara harus menunggu Miko sampai Miko persiapan Miko sudah siap dan Miko akan datang padanya. 

Jam 5 sore,jam kerja Miko sudah selesai. Hari ini ia akan datang pada ibu seperti yang Dara minta.

Miko  : Bu, aku ingin bicara.

Ibu      : Ada apa ? Mukamu serius sekali.

Miko  : Aku ingin ibu merestui hubunganku dengan Dara.

Ibu      : Apa ? merestui hubungan dengan wanita penipu itu ?

Miko  : Maksud ibu apa, menyebut Dara seorang penipu ?

Ibu      : Kalau bukan penipu, lalu apa ? dia berpura-pura mengasuh Marsya untuk menipumu.

Miko  : Bu, hentikan omong kosong ibu. Dia bukan seorang penipu. Aku lebih mengenal dia daripada ibu.

Ibu      : Lalu, apa kau tahu bagaimana masalalunya ?

Miko  : Aku tahu, aku tahu bagaimana menderitanya dia dimasalalu.

Ibu      : Oh, jadi wanita itu sudah mengatakan semuanya untuk mencari simpatimu.

Miko  : Ibu ! Aku mohon. Jangan lagi bicara buruk tentang dirinya. Dia tidak pernah mengeluh atau menceritakan apapun padaku. Bahkan Dia tidak tahu bahwa aku sudah tahu tentang dirinya. Jadi aku mohon, ibu restui hubunganku.

Ibu      : Tidak !

Miko  : Bu, jangan sampai aku tidak memaafkan ibu atas apa yang sudah ibu lakukan. Aku tahu ibu bersikap buruk pada Indri dan juga Dara. Semuanya jadi kacau seperti ini bukan hanya karena aku, tapi juga karena sikap buruk ibu. Jadi aku mohon jangan membuat aku membenci ibu karena ibu tidak bisa merubah sikap ibu.

Ibu      : Miko ! Apa kau sudah terpengaruh dengan perempuan itu ?

Miko  : Baiklah, jika ibu masih berfikir bahwa Dara bukan perempuan baik-baik. Tapi satu hal yang harus ibu tahu, aku datang kesini murni untuk meminta restu ibu pada hubunganku dengan Dara. Aku ingin menganggap ibu tidak pernah bersikap buruk, aku ingin ibu adalah ibu yang penyayang seperti ibu menyayangiku. Tapi sekarang, aku benar-benar kecewa padamu. Aku tidak akan memaksamu untuk memberiku restu pada Dara, tapi ibu juga tidak bisa memaksa ku untuk melupakan sikap buruk ibu.

Miko pergi meninggalkan ibu dan menemui Marsya dikamarnya.

Marsya : Ayah, kenapa semalam ayah pergi tiba-tiba ?

Miko  : Kemarin ayah ada urusan mendadak. Maafkan ayah. Dan hari ini, ayah juga punya kabar bahagia untukmu.

Marsya : Apa itu ?

Miko : Ayah sudah menemukan Dara.

Marsya : Benarkah ? Lalu dimana dia sekarang ? Apa ada disini juga ?

Miko  : Tidak, dia belum datang kesini. Ayah harus minta ijin dulu pada nenek jika ingin membawa Dara kesini. Tapi sepertinya nenek tidak mengijinkan jika ayah yang meminta. Karena itu, apa Marsya mau bantu ayah minta ijin ke nenek ?

Marsya : Tentu saja aku mau. Dan nenek, ayah tau tidak ? Dia selalu mendengarkan permintaanku. Jadi dia pasti mengijinkan Dara datang kesini.

Satu bulan kemudian, Dara pergi kerumah sakit untuk check up terakhirnya. Dan hasilnya sangat baik. Rahim Dara sudah cukup sehat dan bahkan kemungkinan mempunyai keturunan sangat besar karena kesuburannya juga sangat baik. Dara keluar dari ruangan dokter, lalu di lorong ia bertemu dengan Anton dan Rima.

Perut Rima sudah mengecil, tapi Rima terlihat sulit berjalan hingga harus dibantu Anton. Dara melihat mereka, ia menghitung usia kehamilan Rima, seharusnya ia sudah melahirkan sekarang. Apa mungkin dia baru melahirkan hingga jalannya masih belum lancar. Meskipun Dara tidak suka bertemu mereka berdua, tapi ia harus menyapa mereka karena mereka bertemu muka seperti ini.

Dara   : Apa kabar Rim ? Perutmu sudah mengecil, pasti kau sudah melahirkan. Perempuan atau laki-laki?

Rima   : Ada apa kau datang kesini ? Apa mungkin kau sudah tahu apa yang terjadi padaku dan ingin menertawakan aku ?!

Dara   : Maksudmu apa ? Kenapa aku harus menertawakan kalian ?!

Anton  : Sudahlah Rim, jangan memulainya lagi. Mungkin memang Dara benar-benar tidak tahu.

Rima   : Tidak mungkin, dia pasti tahu. Dan kau Dara, meskipun aku keguguran, jangan berfikir kau bisa menertawakan aku !

Dara   : Keguguran ? Kapan ?

Anton  : 4 hari yang lalu.

Dara   : Aku turut prihatin atas apa yang menimpa kalian.

Rima   : Dara, kau berani-beraninya berkata prihatin pada kami. Jangan-jangan kau datang kesini untuk berpura-pura prihatin lalu mendapatkan simpati dari mas Anton.

Tiba-tiba Miko datang dan membalas perkataan Rima.

Miko  : Mendapatkan simpati ? Apa aku tidak salah dengar ?!

Rima   : Kau, bukankah kau Miko yang pemain film itu. Dengar, ini urusanku dengan Dara, jangan ikut campur !

Miko  : Benarkah ?! Urusan Dara juga urusanku. Jadi jika ada yang ingin kau katakan pada Dara, katakan saja padaku. Dan tadi kau berkata Dara ingin mendapatkan simpati dari suamimu ? Aku fikir kalian harus bercermin. Dara terlalu berharga dan dia tidak mungkin menyianyiakan waktunya untuk mencari simpati tidak penting dari suamimu. Dan kau, siapa namamu ? Anton. Kau benar-benar bodoh membuang Dara hanya untuk perempuan seperti dia !

Rima   : Kau, bagaimana kau bisa berkata seperti itu ?!

Miko  : Baiklah, karena aku dan Dara tidak ingin berurusan dengan kalian. Kami pergi. Permisi !

Miko menuntun tangan Dara dan membawanya pergi dari hadapan Rima dan Anton. Rima merasa sangat kesal melihat sikap Miko, kali ini ia kalah telak dari Dara. Dara yang ia fikir lebih buruk darinya ternyata bisa mendapatkan pria seperti Miko.

Rima   : Mas, kenapa diam aja. Mas ga liat penghinaan dari orang itu pada kita ?!

Anton, ia tidak menjawab pertanyaan Rima dan malah pergi meninggalkan Rima. Anton termenung memikirkan perkataan Miko. Dara memang sangat berbeda dari Rima. Meskipun Dara tidak anggun, tapi Dara tidak pernah mencela orang lain dan menilai dirinya lebih baik dari orang lain. Dara juga tidak pernah menuntut banyak hal pada Anton. Meskipun Dara lelah karena sama-sama bekerja, tapi Dara tidak pernah menunjukannya dan selalu menyambut Anton dengan hangat ketika Anton pulang bekerja. Dara juga tidak pernah berkata buruk tentang ibunya meskipun ibunya tidak menyukai Dara. Anton kembali mengingat saat pertama ia bertemu Dara. Ketika Dara menangis di belakang sekolah karena ejekan teman sekolahnya. Ia mengingat masa-masa indah bersama Dara yang banyak mereka lalui berdua. Anton sadar, meskipun Dara belum mempunyai anak, tapi ia cukup bahagia bersama Dara. Tidak seharusnya ia menghianati Dara hanya karena Dara belum memberinya keturunan. Dan sekarang, Anton merasa pantas mendapat hukuman dari tuhan atas apa yang sudah ia lakukan pada Dara. Ia masih belum diberikan keturunan, dan mendapatkan istri yang tidak sebaik Dara.

Sementara Dara, ia melihat Miko yang menuntunnya. Miko untuk kedua kalinya membela Dara ketika Dara sedang berhadapan dengan Anton dan Rima. Dara tersenyum mengingat ucapan Miko yang menganggap Dara sangat berharga. Miko berbalik dan melihat Dara yang tersenyum sendiri.

Miko : Kenapa ?

Dara   : Kamu benar-benar keren. Aku tidak pernah membayangkan bisa mencintai orang seperti dirimu. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku.

Dara tersenyum lalu memeluk Miko. Miko mencoba melepaskan pelukan Dara karena malu orang-orang disekitar melihat kearah mereka.

Miko  : Dara, lepaskan. Orang lain melihat kita .

Dara   : Aku tidak peduli. Biarkan saja orang lain lihat agar mereka tahu bahwa aku mencintaimu.

Miko berhenti mencoba melepaskan diri dari pelukan Dara dan memeluk Dara dengan sangat erat hingga orang disekitar mereka bersorak riuh melihat mereka berdua.

THE END

Lalu bagaimana dengan ibu Miko ? Ibu Miko menyetujui hubungan Dara dan Miko. Ia tidak bisa menolak permintaan Marsya yang selalu memintanya untuk mengijinkan Dara kerumahnya. Ibu tidak bisa berbuat banyak, Miko dan Marsya mencintai Dara, dan ia juga tidak punya alasan lagi untuk melarang mereka. Setelah mendapatkan restu orangtuanya, Miko dan Marsya pergi kerumah Dara. 

Ketika Dara membuka pintu, Marsya memeluknya dan berkata,

“ Dara, Please be my mom !”

3 comments:

  1. Replies
    1. Cerita lain Masih proses penulisan,, nanti kalau beres pasti lgsung di posting. Thanks for reading :)

      Delete
  2. Hebat .. sukses u cerita selanjutnya

    ReplyDelete