Sunday, 28 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 19)

Part 18


          19. PERGI DARI KEHIDUPAN MIKO

Jam 8 pagi, Dara dan Marsya sudah siap untuk mengunjungi nenek Marsya. Mereka pergi ke restoran sate, karena gang yang Marsya lihat berada di rute restoran ke apartemen. Marsya memperhatikan satu persatu jalan yang mereka lewati. dan akhirnya ia menunjukan gang yang ia maksud. Mereka berhenti disana, Marsya masih ingat jalan menuju rumahnya. Rumah nenek Marsya terletak cukup jauh dari jalan raya. Rumahnya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari rumah Dara. Dara melihat seorang perempuan tua yang sedang menjemur pakaian di depan rumah. Marsya segera berlari pada perempuan itu.

Marsya : Neneeekkk . . . . .

Reaksi nenek tidak seperti yang diharapkan. Melihat Marsya datang, ia sama sekali tidak menyambut Marsya. Sikapnya dingin bahkan sama sekali tidak melihat Marsya. Tapi itu tidak membuat Marsya diam, ia malah mendekati nenek dan memeluknya.

Marsya : Nenek, aku sangat merindukanmu.

Nenek : Apa yang kamu lakukan disini ?

Marsya : Nenek ..

Nenek : Pulanglah. Ayahmu akan mencarimu.

Marsya : Nenek. Jangan bicara seperti itu, aku sangat merindukanmu.

Nenek : Siapa dia ?

Marsya : Oiya, dia Dara. Bibi yang mengasuhku.

Nenek : Aku sibuk. Kamu pulanglah. Aku tidak ingin ayahmu mencarimu.

Marsya : Nenek . . . . Aku ingin berada disini

Nenek : Nenek bilang pulang. Nona Dara, tolong bawa anak ini pergi. Aku sedang sibuk.

Marsya : Tapi nenek . . .

Dara    : Nenek. Maaf, saya rasa anda terlalu kasar pada anak kecil. Dia selalu merindukan anda, tidak bisakah anda meluangkan sedikit waktu pada cucu anda.

Nenek : Siapa kau berani berkata seperti itu. Sekarang kalian cepat pergi dari sini !

Marsya : Nenek jangan memarahi Dara, dia sudah baik padaku.

Nenek : Kalau begitu kalian berdua cepat pergi !

Dara    : Ayo Marsya kita pulang. Nenek mu sedang sibuk hari ini, lain kali kita bisa kesini lagi.

Dara dan Marsya pergi meninggalkan rumah nenek, nenek melihat mereka yang pergi dengan raut muka menyesal. Ia bukan tidak merindukan Marsya, ia hanya tidak ingin jika ia bersikap baik, itu akan membuat Marsya ingin kembali kerumahnya. Nenek benar-benar ingin Marsya mendapatkan kehidupan yang layak dengan Miko, tidak seperti dirinya ataupun anaknya.

Ibu Miko melihat Dara dan Marsya yang keluar dari rumah nenek. Dan ia membenarkan bahwa gadis yang dulu muncul adalah ibu dari Marsya. Tapi siapa Dara ? Bagaimana ia bisa keluar dari rumah gadis itu. Ismi mengatakan bahwa Ismi dan Miko tidak tahu dari mana Marsya berasal, tapi Dara tahu.  Lalu kemana gadis itu ? Gadis itu bukan Dara, meskipun baru bertemu sekali, tapi ia masih ingat wajah gadis itu. Apa mungkin Dara dan gadis itu bekerja sama dari awal dan sengaja membohongi semua orang ?

Ibupun  menelpon Dara

Ibu       : Kau dimana ?

Dara    : Saya, saya sedang kepasar dengan Marsya. Ada apa nyonya ?

Kebohongan Dara yang mengaku berada dipasar padahal jelas-jelas ia berada ditempat lain, membuat Ibu bertambah kesal dan curiga pada Dara.

Ibu       : Datang kerumahku sekarang bersama Marsya.

Dara    : Maaf nyonya, ada apa ? Saya rasa saya tidak ada urusan dengan anda.

Ibu       : Jangan mencoba membohongiku lagi. Datang kerumahku sekarang jika kau tidak ingin berada dalam masalah besar. Aku akan mengirimkan alamatnya.

Dara bingung ada apa ia dipanggil oleh ibu Miko. Kemarin ketika menelpon, Miko tidak mengatakan apa-apa, karena itu ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang, ibu Miko menelpon dan menyuruhnya untuk datang. Dara menelpon Miko, namun berkali-kali tidak diangkat. Pasti terjadi sesuatu, tapi apa ?

Miko datang kerumahnya, ia membawa hasil tes DNA antara dirinya dan Marsya. Ia sekarang berada diruang keluarga bersama ibu dan ayahnya. Miko menyimpan hasil tes tersebut di atas meja. Ayah membukanya, dan sangat kaget melihat isi dari kertas tersebut.

Ayah    : Apa ini ?!

Miko    : Itu adalah hasil tes DNA dengan anakku.  

Ayah    : Belum cukup kau membantahku, sekarang kau mencoreng nama baikku. Sebenarnya apa maumu ?!

Ibu       : Ayah, pelankan suaramu.

Ayah    : Aku tidak pernah menyangka akan mempunyai anak seperti dirimu. Kau, bahkan sedikitpun tidak mewarisi kemiripan denganku.

Ibu       : Ayah, jangan bicara omong kosong lagi. Dia sudah cukup berusaha merawat anak itu.

Ayah    : Merawat anak ? pria sepertimu bisa merawat anak ?

Miko    : Aku mungkin tidak pantas menjadi seorang ayah, tapi kali ini. Aku benar-benar mohon pada ayah, ijinkan aku merawat anak ini. Aku akan membesarkannya dengan baik, menyekolahkan dan membuat ia menjadi anak yang berguna.

Ayah    : Menjadi anak berguna ? Anak yang sama sekali tidak tahu diri, ingin mendidik seorang anak menjadi anak yang berguna. Omong kosong apa itu ? Bercerminlah ! Kau fikir seperti apa dirimu.

Ibu       : Ayah . . .

Ayah    : Pergi dari sini. Jangan berani menginjakan kaki lagi dirumah ini.

Ibu       : Ayah,hentikan. Dia sudah melakukan yang terbaik. Setidaknya dia masih mempunyai perasaan dengan tidak membuang anak seperti orang lain.

Ayah    : Ibu,jangan membelanya di depanku. Cepat suruh anak ini pergi. Aku tidak ingin melihat wajah kotornya !

Miko pergi meninggalkan rumah, dan ketika mobil Miko keluar dari pagar rumah, Dara dan Marsya sampai di rumah Ibu Miko, tapi Miko tidak melihat kedatangan mereka berdua. Dara tidak percaya melihat rumah yang sangat besar dengan halaman yang luas. Lebih besar dan lebih luas daripada rumah Miko. Dara mengecek kembali alamat yang dikirim Ibu Miko untuk memastikan bahwa ia tidak salah alamat. Alamatnya memang tepat, sudah sesuai dengan yang di SMSkan.

Seorang security menghampirinya dan bertanya keperluan Dara. Setelah Dara mengatakan bahwa ia mempunyai janji dengan Ibu Miko, Dara diijinkan masuk. Dara diantar oleh security itu ke ruang tamu. Tidak berapa lama, ibu datang dari dalam.

Ibu       : Apa kau ibu dari anak ini ?

Dara    : Bukan Nyonya, saya tidak tahu ibu dari anak ini.

Ibu       : Lalu siapa kau dan apa sebenarnya rencanamu ?

Dara    : Maksud Nyonya ?

Ibu       : Dengar, mungkin kau bisa membodohi anakku. Tapi tidak dengan aku. Apapun yang kau rencanakan dan lakukan, pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan apa-apa.

Dara    : Saya masih belum paham apa yang nyonya katakan.

Ibu       : Kau ini benar-benar. Mulai sekarang, anak ini menjadi tanggung jawabku. Kau bisa pergi dan jangan pernah kembali.

Dara    : Nyonya, saya tidak mengerti dengan apa yang anda katakan. Dan saya tidak bisa meninggalkan Marsya disini, dia tanggung jawab saya dan saya akan melepaskannya jika Miko yang menyuruh.

Ibu       : Kau fikir kau siapa berani berkata seperti itu ! Miko anakku, dan anak ini cucuku. Lancang sekali kau !

Dara    : Maaf Nyonya, bukan saya lancang. Saya hanya menjaga amanat dari anak anda.

Ibu       : Amanat ? Amanat apa ? Memelihara kebohongan selamanya ?! Kau benar-benar rubah betina,licik pintar berkelit dan mencari alasan.

Dara    : Nyonya, anda benar-benar keterlaluan.

Ibu       : Siapa yang keterlaluan, penipu sepertimu ? Atau aku yang ingin merawat cucuku ?!

Dara    : Saya bukan penipu.

Ibu       : Lalu apa ? wanita yang mengalami kegagalan hidup, karir dan rumah tangga. Ditambah keluar masuk kantor polisi. Latar belakangmu sudah cukup untuk menjadi alasan kenapa kau menjadi seorang penipu.

Dara    : Nyonya, masalah pribadi saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya mengurus Marsya. Saya mempunyai alasan untuk semua masa lalu saya.

Ibu       : Tentu saja, tidak ada satu hal pun yang tanpa alasan. Lalu alasan apa yang ingin kau sampaikan, kau bercerai karena suamimu berselingkuh, lalu dipecat karena ketidak adilan ditempat kerjamu. Dan keluar masuk kantor polisi karena salah paham. Kau ingin mengatakan bahwa itu adalah alasanmu ?

Dara    : Nyonya . . . .

Ibu       : Sekarang pergi dari sini, sebelum aku memanggil polisi untuk kembali menangkapmu.

Dara    : Silahkan tangkap saya, saya tidak bersalah.

Ibu       : Benarkah ? Lalu setelah kau ditangkap, kau akan menelpon anakku, meminta bantuannya dan membuat media datang meliput kejadian ini !

Dara    : Nyonya . . . Saya benar-benar tidak menyangka anda akan seperti ini.

Ibu       : Aku juga tidak menyangka anakku akan masuk dalam jebakan rubah betina sepertimu. Sekarang, sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Lebih baik kau pergi. Tinggalkan apartemen hari ini juga. Jangan pernah menghubungi anakku. Jika kau masih berani, akan aku pastikan kau dan bahkan ibumu, tidak akan pernah merasakan hidup dengan tenang.

Dara tidak bisa lagi menahan airmatanya yang sudah membendung. Ia tidak menyangka akan mendapatkan penghinaan seperti ini. Dara yang hanya berniat membayar utang harus berakhir dengan sakit hati mendalam. Ia pamit pada Marsya yang juga menangis karena tidak ingin ditinggalkan Dara. Sebelum pergi, Dara berpamitan terlebih dulu pada Marsya.

Dara    : Sayang, dengar. ibu itu adalah nenekmu. Dia akan merawat dan menyayangimu dengan baik. Mulai sekarang, kau bukan hanya mempunyai satu ayah dan satu nenek, tapi juga punya nenek lain. Itu akan membuatmu tidak merasa kesepian lagi. Dan ayahmu, kau bisa tinggal disini dengan ayahmu, bukankah itu menyenangkan ?

Tapi Marsya tetap menangis meskipun Dara berusaha membujuknya. Hingga akhirnya Ibu menyuruh Dara cepat pergi dan memaksa Marsya untuk masuk ke dalam rumah.

Dara keluar dari rumah dengan airmata yang masih mengalir. Bukan hanya sakit hati masalalunya yang kembali terkuak, tapi juga sakit hati mendapat tuduhan begitu kejam dan yang paling sakit, ia harus berpisah dengan Marsya. Anak yang sudah mulai ia sayangi, anak yang selalu ia khawatirkan akan terluka. Dan kali ini Dara juga khawatir, bagaimana jika Marsya tidak bisa bertahan di rumah ini, bagaimana jika Marsya tidak mau makan, atau lebih parah lagi, bagaimana kalau Marsya nakal seperti ketika pertama kali bertemu dengannya.

Ketika Dara keluar dari pagar rumah Miko, Arin datang mengendarai mobil. Ia masih mengingat wajah Dara. Arin penasaran apa yang Dara lakukan dirumahnya ? ditambah lagi Dara keluar sambil menangis ? Ada apa sebenarnya ? Apa Dara kekasih Miko ? Atau bahkan punya hubungan rumit dengan Miko ?

Ketika Arin masuk kedalam rumah, ia mendengar tangisan seorang anak. Arin mencari arah tangisan itu berasal, ia kembali kaget melihat yang menangis adalah seorang anak kecil, ia duduk sendiri diruang keluarga. Anak yang memanggil Dara ketika di apartemen, tapi siapa anak ini ? Apa dia anak Miko, lalu apa mungkin Dara adalah ibunya ?

Arin     : Kamu siapa ?

Marsya : Tante, tolong saya. Saya ingin pulang.

Arin     : Tante tanya, kamu siapa dan kenapa ada disini?

Marsya : Saya Marsya. Dara meninggalkan aku disini karena nyonya itu.

Arin     : Nyonya ?

Ibu datang dari dapur membawa segelas air.

Ibu       : Ini, minum ini. Sudah jangan menangis lagi. Kamu akan aman dengan nenek disini.

Arin     : Nenek ? Apa maksudnya ini bu ?

Ibu       : Dia anak abangmu, Miko.

Arin     : Apa ? Anak Bang Miko ? Lalu perempuan itu ?

Ibu       : Dia penipu.

Arin     : Maksud ibu ? Jika anak ini benar anak abang, lalu apa yang dia tipu.

Ibu       : Ibu akan menjelaskannya nanti setelah Marsya berhenti menangis. Lalu kenapa sudah pulang, ini masih jam 11 siang.

Arin     : Aku tidak pulang, hanya mengambil beberapa file yang tertinggal. Tapi bu, ceritakan saja sekarang. Ada apa sebenarnya.

Ibu       : Ibu harus mengurus anak ini dulu. Sudah ibu bilang akan menceritakannya padamu nanti.

Arin     : Lalu ayah, apa dia sudah tahu ?

Ibu       : Sudah.

Arin masuk kekamarnya, lalu tak berapa lama kembali pergi lagi. Ia masih penasaran dengan anak itu, Arin menelpon Miko untuk memastikannya. Tapi tidak diangkat. Ia ingat Rifky, Rifky mengenal Dara, dan ia pasti tahu nomor telpon Dara.

Rifky    : Ada apa ?

Arin     : Apa kamu tahu nomor telpon Dara ?

Rifky    : Ada apa kamu tiba-tiba bertanya hal itu ?

Arin     : Aku akan menjelaskannya nanti, tapi sekarang sangat darurat. Aku mohon berikan aku nomor telponnya.

Rifky    : Tapi apa kamu berjanji tidak akan melakukan hal buruk padanya.

Arin     : Yah, aku janji. Kamu bisa pegang perkataanku.

Rifky    : Baiklah, akan aku kirimkan nomor nya.

Tak berapa lama, Rifky mengirimkan nomor Dara, Arin langsung menelponnya.

Arin     : Saya Arin, adik Miko. Kita pernah bertemu beberapa hari yang lalu di apartemen. Apa kita bisa bertemu ?

Dara    : Arin ? Maaf hari ini saya tidak bisa. Mungkin lain kali.

Arin     : Saya mohon, ini penting.

Dara    : Maaf.

Arin     : Saya minta maaf atas perlakuan tidak menyenangkan dari ibu saya. Percayalah, saya tidak akan menyakitimu. Jadi bisakah kita bertemu ?

Dara    : Baiklah. Dimana ?

Arin     : Di Klinik. Klinik tempat kamu bekerja dulu.

Dara    : Dari mana anda tahu saya pernah bekerja disana.

Arin     : Kamu cukup datang saja, dan akan tahu jika sudah sampai disana.

Satu jam kemudian, Dara sudah sampai di klinik. Sebenarnya Dara sudah tidak ingin lagi datang dan mengingat kenangannya ketika masih bekerja diklinik ini. Dara bersikap seolah ia seorang pengunjung biasa, namun gagal, karena ketika sampai di recepsionist. Ia melihat Irgi,

Irgi       : Wow, lihat siapa yang datang. Dara ? Apa kabarmu ?

Dara    : Baik pak.

Irgi       : Jika baik, lalu ada keperluan apa datang kesini ? Yang datang kesini biasanya sedang dalam keadaan kurang baik?

Dara    : Saya rasa itu bukan urusan bapak.

Irgi       : Kenapa kamu sangat sensitive ? AH, apa mungkin itu karena perceraianmu ?

Dara    : Maaf pak, bukankah sudah saya katakan ini bukan urusan bapak.

Irgi       : Kamu salah. Saya pimpinan disini, tentu saja jadi urusan saya jika ada orang yang datang tapi bukan untuk berobat.

Dara kesal dengan perkataan Irgi, saat itu, ingin sekali ia menampar mulut Irgi yang tidak punya sopan santun. Tapi beruntung saat itu Arin datang.

Arin     : Dara, kamu sudah datang. Maaf pak Irgi. Ini tamu saya, dan saya rasa ini memang bukan urusan anda.

Irgi       : Maafkan saya bu, saya hanya merasa bertanggung jawab disini.

Arin     : Baiklah, sekarang lepaskan tanggung jawab anda pada perempuan ini. Karena dia kesini untuk undangan saya. Mengerti ! Ayo Dara, ikut saya.

Irgi melihat Dara yang pergi mengikuti Arin. Irgi merasa aneh kenapa Arin bisa mengenal Dara. Dan ada urusan apa diantara mereka ? Karena Dara juga, Arin bersikap sedikit sinis kepadanya.

Sementara Dara juga penasaran, kenapa Irgi bisa begitu hormat pada Arin, padahal Arin hanya seorang Dokter yang praktik disana. Dara mengikuti dibelakang Arin, ia melihat dokter lain tersenyum dan karyawan hormat padanya.Hingga mereka sampai diruangan Arin, ruangan yang cukup besar, tidak seperti ruangan dokter yang lain. Dara tidak pernah masuk keruangan ini, dan setahunya ruangan ini adalah ruangan pemilik Klinik. Apa mungkin Arin adalah pemilik klinik ini?

Dara    : Ada apa anda memanggil saya ?

Arin     : Hanya ingin bertemu. Mau minum apa ?

Dara    : Apa saja. Tapi maaf saya tidak bisa berlama-lama disini.

Arin     : Baiklah, saya akan langsung saja. Saya penasaran dengan hubungan Anda, anak itu dan Miko. Saya lihat tadi anda menangis saat keluar dari rumah saya. Pasti terjadi sesuatu yang tidak beres.

Dara    : Saya rasa itu tidak ada hubungannya dengan anda.

Arin     : Selalu ada hubungannya dengan saya jika itu tentang keluarga saya. Bukankah anda bilang anda tidak punya waktu banyak, jadi segera ceritakan. Saya merasa tuduhan ibu saya pada Anda itu tidak berdasar.

Dara    : Saya tidak tahu harus menjelaskannya dari mana.

Arin     : Baiklah, kalau begitu, cukup jawab pertanyaan saya. Apa Marsya benar-benar anak Miko ?

Dara    : Saya rasa begitu.

Arin     : Kenapa anda tidak yakin ?

Dara    : Saya hanya pengasuh yang merawat Marsya, jadi saya tidak tahu bukti hubungan Dara dan Marsya.

Arin     : Lalu bagaimana anda bisa jadi perempuan yang merawat Marsya ?

Dara    : Saya mempunyai hutang pada Miko.

Arin     : Hutang ? Jadi sebelumnya anda pernah bertemu dengan Miko ?

Dara    : Ya, tidak sengaja. Tapi sekarang semuanya sudah selesai. Hari ini saya berhenti. Jadi ini tidak ada hubungan lagi dengan saya.

Arin     : Benarkah ? Apa mungkin ini ulah ibuku ?

Dara    : Ibu anda atau Miko, itu sama saja.

Arin     : Sepertinya sudah terjadi salah paham antara anda dengan ibuku. Tidak mungkin kamu dipecat hanya dalam sehari.

Dara    : Itu bukan urusan saya. Anda bisa tanyakan langsung pada ibu anda. Jika pertanyaan anda sudah selesai, saya pamit.

Arin     : Terimakasih untuk waktunya. Oiya, saya dengar anda dulu pernah bekerja disini ?

Dara    : Benar,

Arin     : Jika anda mau, saya akan mempekerjakan anda kembali kesini.

Dara    : Terimakasih atas tawaran anda. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima tawaran anda.

Arin     : Kenapa ?

Dara    : Saya mempunyai alasan pribadi untuk itu.

Arin     : Alasan pribadi ?

Dara    : Jika pertanyaan anda sudah selesai, Saya pamit. Permisi

Dara berdiri dari kursi lalu pergi dari ruangan. Tapi semenit kemudian, ia kembali lagi.

Arin     : Ada apa ?

Dara    : Maaf, tadi pagi saya baru saja mendatangi rumah nenek Marsya, saya fikir Miko dan keluarga anda belum tahu alamatnya. Saya akan menuliskan alamatnya.

Dara pergi dari ruangan Arin. Diluar, ia bertemu beberapa temannya yang masih bekerja di klinik. Mereka menyapa Dara dengan ramah. Dara tahu mereka berpura-pura ramah karena melihat Dara yang keluar dari ruangan Arin. Dara hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman, ia tidak ingin lebih lama berada disini karena itu hanya akan membuatnya kembali kesal pada semua sikap mereka.

Arin menghubungi Miko, tapi masih tidak diangkat. Ia pun mengirim pesan pada Miko.

Sedangkan Miko sendiri, ia sedang berada di dalam mobil. Ia menundukkan kepalanya pada stir mobil. Ponselnya beberapa kali berdering, tapi tidak ia hiraukan. Ia masih memikirkan kata-kata ayahnya. Itu memang benar, ia hanya seorang anak yang tidak berguna bagi orang tuanya, jadi bagaimana bisa ia mengurus Marsya. Tapi jika bukan ia yang mengurusnya, siapa lagi ? Miko juga masih tidak bisa menemukan neneknya, lalu bagaimana ?

Ia melihat jam tangannya, sekarang sudah jam 7 malam. Miko melihat ponselnya, 3 panggilan dari Arin dan 1 panggilan dari Ismi. Tidak ada panggilan dari Dara. Mungkin semuanya baik-baik saja jika Dara tidak menelponnya. Lalu ia melihat 1 pesan dari Arin.

“Abang dimana ? Marsya sekarang berada dirumah dengan ibu, sebaiknya pulang sekarang dan cepat selesaikan masalahnya?”

Miko kaget, ada apa sebenarnya ? Kenapa Arin mengirimkan pesan itu ? Miko menelpon Dara, tapi nomornya tidak aktif. Ada apa dengan Marsya dan Dara ? Kenapa Marsya ada dirumahnya ? Miko pergi ke apartemen untuk memastikannya.

Miko sampai di apartemen, ia memanggil Dara, tapi tidak ada siapa-siapa disana. Setiap ruangan sangat rapi. Tidak ada sisa makanan ataupun piring kotor di dapur, semua peralatan masak tersimpan rapi di dalam lemari. Begitu pula dengan kamar mandi, semua rapi, tidak ada handuk dan sikat gigi Dara. Miko pergi ke kamar, hanya ada baju Marsya yang sudah dikemas rapi kedalam koper Marsya. Diatas meja, ia melihat kartu kredit yang dulu ia berikan pada Dara. Disana juga ada rincian pemakaian uang pada kartu kredit. Dara benar-benar hanya memakai uang untuk keperluan Marsya, ia bahkan jujur disaat Miko tidak memperhatikan bagaimana Dara menggunakan uangnya. Miko mencoba menghubungi Dara lagi, tapi masih tidak aktif.

Part 20

No comments:

Post a Comment