Wednesday, 3 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 10)

  Part 9


      10.  BERI SEDIKIT WAKTU

Hari ini hari ulang tahun Arin yang ke 24, saudara perempuan Miko satu-satunya. Arin mengundang Miko untuk datang kerumah merayakan ulang tahunnya. Miko yang tidak bisa menolak permintaan Arin, terpaksa datang ke rumahnya untuk makan malam. Suasana makan malam sedikit canggung karena ini pertama kalinya Miko dan ayahnya makan dalam satu meja setelah pertengkaran besar mereka.

Arin     : Ayah, aku ingin minta hadiah pada ayah untuk ulang tahunku.


Ayah    : Apa yang kamu minta, katakana saja.

Arin     : Ayah, bisakah ayah memberikan klinik itu untuk Arin ketika Arin sudah menyelesaikan kuliah Arin?

Semua yang sedang makan malam terdiam mendengar perkataan Arin.

Ayah    : Apa maksudmu ?

Arin     : Ayah, sejujurnya aku lelah melihat ayah yang terus memaksa Abang untuk mengurus klinik. aku kecewa pada ayah yang selalu melihat Bang Miko tanpa pernah sekalipun melihatku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bersekolah di kedokteran meskipun kemampuanku sangat pas-pasan. Itu semua agar ayah bisa mengandalkan aku, aku bisa yah mengurus klinik !

Ayah    : Hentikan omong kosongmu ! Bagaimana mungkin kamu ingin mengurus klinik jika hanya untuk sekolah saja kamu hanya mendapat nilai pas-pasan.

Ayah pergi meninggalkan semuanya yang sedang makan. Ibu mencoba memanggil ayah, tapi ia terlanjur pergi masuk kamar. Arin menunduk mendengar perkataan ayahnya. Tak lama ia pun berdiri dan meninggalkan meja makan, hingga yang tersisa hanya Miko dan ibu.

Miko    : Bu, Miko minta maaf. Tapi Miko benar-benar tidak bisa menuruti keinginan ayah.

Miko pamit pada ibu lalu mengejar Arin kekamarnya. Ia membuka pintu, Arin terlihat bersedih mendengar ucapan ayahnya. miko menghampiri Arin dan merangkulnya.

Miko    : Seharusnya kamu tidak mengatakan hal itu pada ayah, apalagi ini hari ulang tahunmu.

Arin     : Sudahlah, aku sedang tidak ingin dihibur Abang.

Miko    : Benarkah ? Lalu bagaimana dengan voucher liburan ini ?

Miko memperlihatkan dua buah voucher berlibur pada Arin. Arin melihat voucher tersebut, dan raut wajahnya berubah menjadi ceria begitu melihat isi dari voucher tersebut.

Arin     : Abang ! Serius ini buat Arin ???

Miko    : Tentu saja, memangnya untuk siapa lagi ! Hari ini yang berulang tahun Cuma kamu !

Arin memeluk Miko dengan erat. Arin memang sosok yang ceria, meskipun usianya sudah 24 tahun, tapi ia masih bersikap seperti anak kecil apalagi jika di depan Miko. begitupun Miko yang selalu memanjakan Arin. Dan perkataan Arin saat makan malam tadi membuat Miko sangat kaget, ia tidak percaya adiknya yang begitu manja mempunyai keinginan yang tidak terduga. Rela menjadi seorang dokter, untuk memuaskan ayahnya dan melindungi dirinya. Meskipun jawaban pahit harus ia terima dari ayah.

Arin     : Tapi ini 2 voucher, sedangkan aku tidak punya teman dekat karena terlalu sibuk belajar. Lalu dengan siapa aku berangkat ?

Miko    : Mungkin dengan mama ?

Arin     : Ngga, kalo kesana bareng mama ga seru. Mama pasti bikin seribu peraturan. Ga boleh kesini, beli ini beli itu, wah pokonya banyak deh.

Miko    : Yaudah, voucher nya satu aja kalo gitu.

Arin     : Eh, jangan-jangan. Ini biar aku kasih ke seseorang aja. Dan dia pasti bakalan mau nemenin Arin.

Miko    : Siapa ? Laki-laki !!

Arin     : Bener banget !

Miko    : Ga boleh, enak aja !

Arin     : Kenapa ngga, laki-lakinya kakak tahu ko

Miko    : Siapa ?

Arin mengambil cermin di mejanya lalu dihadapkan ke arah Miko.

Arin     : laki-laki itu yang ada dicermin. Dan karena ini hari ulang tahunku, maka permintaan Arin tidak bisa ditolak.

Miko    : Tapi kakak lagi syuting sayang !

Arin mengembalikan vouchernya lagi pada Miko.

Arin     : Yaasudah, bawa pulang lagi hadiahnya, percuma Arin ga akan pergi !

Miko kembali memeluk Arin dan tersenyum tanda ia menyetujui permintaan Arin. Arin balik memeluk Miko. Keakraban dan keceriaan mereka dilihat oleh ibu yang berada di pintu kamar Arin. Ibu tersenyum melihat anak-anaknya yang tetap akur meskipun mempunyai ayah yang ambisius dan selalu membanding-bandingkan mereka.

Sudah 5 hari Miko tidak menghubungi Dara. Dara teringat obrolan terakhirnya dengan Miko yang membahas tentang ibu Marsya yang sudah meninggal. Dara berfikir mungkinkah Miko terpukul dengan kenyataan yang ia terima. Ia tidak bisa lagi menghindar untuk merawat Marsya karena hanya ia satu-satunya tumpuan Marsya. Dara merasa sedikit iba dengan Miko, ia yang sama sekali tidak menikah tiba-tiba mendapatkan seorang anak yang tidak tahu darimana datangnya. Pasti semuanya tidak mudah untuk Miko. Ia mengambil ponsel dan mencoba menelpon Miko. Tapi tidak ada jawaban. Entah mengapa Dara merasa khawatir dengan Miko, ia khawatir Miko akan melakukan hal bodoh. 3 panggilan Dara tidak juga terjawab, ia bingung apa yang harus ia lakukan.

Dara dan Marsya menonton tv, tiba-tiba ia melihat infotaiment memberitakan liburan Miko dan adiknya Arin di Eropa. Arin mengupload foto-foto liburan mereka kea kun pribadi Arin, dan itu membuat media tahu tentang liburan mereka. Dara menyesal mengkhawatirkan Miko, karena orang yang di khawatirkan ternyata sedang bersenang-senang diluar sana. Hal itu juga membuatnya kesal, ia memutuskan untuk mengajak Arin keluar dan mengunjungi Ibu Dara.

Miko melihat 3 panggilan tidak terjawab dari Dara, Miko balik menelpon Dara namun tidak diangkat, ia menelpon berkali-kali tidak juga di angkat Dara. Miko khawatir terjadi sesuatu dengan Marsya, karena Dara tidak mungkin menelponnya sampai berkali-kali jika tidak ada hal penting. Karena tidak ada jawaban, ia pergi ke apartemen. Miko memencet bel, tidak ada jawaban. Ia mencoba membuka pintu dengan kuncinya, dan pintu terbuka. Ia semakin khawatir karena apartemen tidak dalam keadaan rapi sementara Dara dan Marsya tidak ada ditempat.

Sementara Dara, ia sedang membuat kue bersama Marsya di rumah. Kemarahan Dara pada Miko disalurkannya dengan membuat kue. Marsya juga tidak kalah semangat, ini adalah pertama kalinya ia belajar membuat kue. Seluruh badan dan tangannya penuh dengan terigu yang bercipratan. Mereka menertawakan badan masing-masing karena semuanya putih oleh terigu.  

Dan saat ibu pulang, ia marah melihat dapurnya sudah berantakan. Untung saja Dara sudah memberitahu Marsya jika mereka harus bersiap pasang telinga karena ibunya pasti akan marah melihat mereka berdua, hingga ketika ibu pulang dan memarahi mereka, Dara dan Marsya terlihat seperti anak kecil yang berusaha menahan tawa ketika dimarahi. Tapi semarah-marahnya ibu, ia tetap saja tidak benar-benar marah apalagi ketika ia melihat meja makan sudah penuh dengan makanan. Dara dan Marsya pergi mandi, lalu mereka makan bersama dengan ibu. Kemarahan Dara pada Miko menghilang setelah ia puas membuat kue dengan Marsya. Hingga tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Dara teringat ponselnya yang ia simpan didalam tas. Dan benar saja, ia melihat panggilan tidak terjawab dari Miko. Dara ingin menghubungi Miko, tapi ia membatalkannya, ia tidak peduli lagi dengan Miko, lagipula Miko juga tidak pernah memperdulikan Marsya. Ia pun mengajak pulang Marsya karena takut kemalaman.

Ketika Dara sudah sampai, ia kaget melihat Miko sudah berada di apartemen. Melihat Dara dan Marsya yang pulang dengan tenang membuat Miko marah karena dari tadi ia menunggu mereka. Dara menyuruh Marsya masuk kamar karena tidak ingin Marsya mendengar pertengkarannya dengan Miko.

Miko    : Darimana saja kalian ?

Dara     : Apa urusanmu !

Miko    : Hey, kamu benar-benar ! Apa kamu tahu berapa lama aku menunggu disini ?!

Dara     : Berapa lama ? tidak akan sampai 6 jam. Kamu baru menunggu beberapa jam sudah semarah ini, tidak kah kamu berfikir berapa lama aku menunggu kabar darimu, berharap kamu menyempatkan waktu untuk menanyakan Marsya.

Miko    : Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, darimana saja kalian ?

Dara     : Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu, bukankah bagimu sudah cukup jika Marsya baik-baik saja. Dan lihat, Marsya masih dalam keadaan utuh, tidak kurang suatu apapun. Jadi untuk apa masih bertanya !

Miko    : Kau !!!!

Dara     : Apa ? Ingin menyebutku apa? Pengasuh yang tidak tahu diri ?

Miko    : Jika tidak terjadi sesuatu dengan Marsya, untuk apa menelponku berkali-kali.

Dara     : Karena aku khawatir terjadi sesuatu denganmu ! Tapi aku salah, orang yang aku fikir sibuk dan orang yang aku khawatirkan ternyata sedang bersenang-senang dengan adik tercintanya.

Miko    : Yaahh !!!! Memang nya aku harus melapor segala urusanku padamu ! itu urusanku untuk bagaimana aku menghabiskan waktuku !

Dara     : Tentusaja itu memang urusanmu, tapi jadi urusanku jika kamu berkata sibuk untuk menengok Marsya selama 5 menit, sementara bisa menghabiskan waktu liburan berhari-hari diluar negeri.

Miko diam mendengar perkataan Marsya. Ia sadar ia memang selalu tidak punya waktu untuk anaknya, tapi untuk Arin ia rela cuti dari pekerjaannya selama berhari-hari. Miko merasa bersalah, tapi ia juga malu hingga tidak bisa meminta maaf pada Marsya dan Dara. Miko pergi meninggalkan Dara dalam kemarahannya.

Dan kali ini, Miko menyesali perbuatannya, ia tidak seharusnya bersikap seperti itu pada Marsya. Marsya itu anaknya dan ibunya sudah meninggal. Miko seharusnya menjadi satu-satunya tumpuan Marsya. Meskipun ia tidak bisa sepenuhnya menjadi ayah yang sempurna, tapi setidaknya ia bisa meluangkan waktunya sedikit untuk Marsya. Untuk menebus kesalahannya, Miko mengirim pesan pada Dara.

Minggu depan setelah makan siang, datanglah ke arena bermain di Ancol. Aku akan bertemu disana dan menghabiskan waktu bersama Marsya. Jadi jangan terlambat !”

Part 11 

No comments:

Post a Comment