Wednesday, 10 June 2015

BEBAN DIBALIK SEORANG ISTRI YANG BEKERJA



Seorang istri sudah sepatutnya berada dirumah, mengurus anak dan suami. Berusaha tampil cantik di depan suami dan sempurna di depan anak-anaknya. Membuat rumah selalu rapi dan nyaman untuk di tinggali, untuk tempat bercengkrama semua anggota keluarga. Mungkin itu adalah bayangan seorang istri yang ideal. Meskipun terlihat simple dan mudah, tapi hal itu sulit untuk dilakukan. Karena pada kenyataannya, lebih dari setengah dari istri atau pun ibu memilih untuk bekerja daripada hanya mengurus rumah.

Itu juga membuat imej pada istri yang bekerja negative dimata orang banyak. Mulai dari berfikir bahwa istri yang bekerja sangat ingin eksis, ingin berkarir, mengalahkan pria, dan ingin meninggalkan anak. Padahal alasannya tidak seperti itu, tidak ada seorang istri yang tidak ingin membahagiakan suaminya, ingin berada di rumah mengurus suami dan menjadi seorang istri ideal.

Banyak faktor yang mengharuskan mereka mengorbankan impian menjadi seorang istri ideal hingga akhirnya mereka menjadi seorang istri yang bekerja. Menjadi istri yang bekerja tentunya bukanlah hal yang mudah. Itu sangat berat, menyita waktu, tenaga dan fikiran. Mungkin jika di haruskan memilih, mereka akan memilih menjadi seorang istri yang dirumah. Tapi keadaan berkata lain, disamping kebutuhan yang berdatangan ada beberapa factor yang menjadi alasan mengapa seorang istri ingin bekerja. Dan tentu saja dibalik itu semua ada beban yang mereka tanggung yang mungkin tidak diketahui oleh para suami.

1.       DITUNTUT SELALU ADA OLEH SUAMI

Yah benar, kadang tidak semua lelaki mengerti tentang yang satu ini. Mereka cenderung menuntut kita untuk selalu ada. Teori bahwa seorang istri diciptakan untuk memenuhi dan melayani kebutuhan suami seolah menjadi teori yang paten untuk mereka. Contoh kecil ketika seorang suami pulang dari pekerjaan, mereka menuntut istri untuk menyediakan minum ketika mereka duduk, dan langsung makan karena kelaparan. Hal itu mungkin sangat biasa dan memang harus dilakukan oleh seorang istri pada suami. Tapi bagaimana dengan istri yang bekerja, mereka juga pasti merasa sangat lelah karena sama-sama baru pulang kerja. Jadi tidak bisakah jika suami mengambil minum sendiri ketika pulang kerja dan menunggu istri selesai memasak karena lapar ? Seorang istri juga sama lelahnya, tapi mereka bisa mengambil minum sendiri. Bahkan setelah itu mereka juga menyiapkan makan untuk suami dan anaknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, hanya sedikit dari suami yang mau mengucapkan terimakasih untuk perjuangan seorang istri di setiap harinya hanya untuk sekedar menyenangkan hati seorang istri. Dalam keadaaan seperti ini, tidak banyak istri yang bisa mengungkapkan kegelisahan mereka tentang tuntutan suami karena mereka tidak ingin ada pertengkaran untuk hal-hal semacam ini, dan pada akhirnya beban ini hanya bisa dirasakan oleh para istri tanpa diketahui oleh suami.

2.       TETAP MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH


Istri yang bekerja bukan berarti mereka bisa mengesampingkan pekerjaan rumah.  Mereka  mempunyai beban yang lebih banyak, dari mulai mereka membuka mata hingga menutup mata, tangan dan kaki mereka seolah tidak berhenti bekerja. Pagi hari mereka bangun setidak nya jam 4/5 pagi, mereka membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk keluarga dan makan siang untuk sang anak. Lalu jam 8 pergi bekerja hingga pulang jam 5 sore dilanjutkan dengan memasak untuk makan malam dan jika ada pekerjaan yang belum diselesaikan pagi, mereka lanjutkan dimalam hari. Begitu juga dengan hari libur, hari libur mereka tidak bisa mereka lewati dengan hanya duduk manis menonton tv. Banyak pekerjaan rumah yang harus mereka kerjakan ketika libur, menyetrika pakaian, mengelap kaca rumah, membersihkan halaman rumah dan masih banyak lagi. Para suami dalam hal ini juga terkadang tidak tahu, istri yang bekerja tentunya berniat untuk membantu suami dalam mencari nafkah, apakah tidak bisa juga jika mereka membantu pekerjaan rumah istri sebagai bentuk timbal balik pada istri ? Para suami seringkali merasa gengsi jika harus mengerjakan pekerjaan perempuan dirumah, mereka takut dilihat oleh teman ataupun tetangga dan mendapat sebutan SUSIS atau semacam itu. Dan rasa malu itu membuat para suami tidak bisa ikut merasakan beban para istri yang harus tetap mengerjakan rumah meskipun mereka bekerja.

3.       MERTUA YANG IKUT CAMPUR


Tidak sedikit mertua yang ikut campur dalam masalah rumah tangga, apalagi rumah tangga yang baru berjalan 2 atau 3 tahun. Bersyukur jika mertua itu mengerti pada menantunya yang bekerja dan mau membantu mengurus cucunya. Tapi bagaimana jika mertuanya selalu ikut campur bahkan sampai menyepelekan pekerjaan menantunya. Mereka dengan gampangnya menjugde bahwa menantunya tidak pandai mengurus rumah dan suami karena terlalu sibuk bekerja, menitipkan anak mereka pada mertua atau baby sitter sehingga sang anak menjadi lebih dekat pada pengasuhnya. Apa tidak terfikir oleh mereka, jika rumah yang sedikit berantakan, suami yang tidak terurus 100% karena mereka membantu para suami bekerja, membantu beban para suami sehingga kebutuhan rumah bisa tercukupi. Nafkah yang cukup adalah kewajiban seorang suami, saat seperti ini seharusnya mertua berterimakasih pada menantunya karena memperingan kewajiban suami hingga kebutuhan bisa tercukupi. Bukan malah menuntut untuk tetap sempurna seperti istri tidak bekerja. Beban ini sangat berat dan hanya di tanggung oleh istri tanpa bisa mengutarakan pada suami apalagi mertua. 


4.       SAUDARA YANG IKUT BICARA

Tidak semua saudara suami mengerti tentang adik/kakak iparnya yang bekerja sekalipun mereka juga seorang wanita. Mereka dengan mudahnya mencibir dan membandingkan keluarga mereka dengan keluarga yang bekerja. Membandingkan bahwa mereka bisa menjadi seorang istri yang lebih baik dari istri yang bekerja. Mereka juga tidak berfikir bahwa ipar mereka bekerja untuk membantu suami yang tidak lain adalah saudara kandung mereka. Jika sudah seperti ini perdebatan biasanya tidak bisa di hindari. Dan menjadi tambahan beban bagi istri jika suami tidak mengerti posisi dirinya dan lebih membenarkan saudaranya.
 



4 faktor diatas hanya sebagian kecil beban seorang istri yang bekerja yang tidak banyak suami ketahui. Saya kira sudah sepantasnya imej miring tentang istri yang bekerja kita singkirkan karena seharusnya istri yang bekerja itu diberi penghargaan. Mereka menghabiskan waktu produktif mereka bukan hanya untuk mengurus anak dan suami, tapi juga berperan ganda menjadi pencari nafkah kedua.

Baca juga cerita pertama saya berjudul Dara,Please Be My Mom

No comments:

Post a Comment