Monday, 22 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 17)

Part 16 

17.  KEDAI SATE

Miko meninggalkan rumah Ismi, ia ingin memastikan keadaan Dara. Dara pasti akan sangat kaget setelah kedatangan Arin tadi. Ismi melihat Miko di jendela kamarnya. Ia menunduk menyesali kepergian Miko. Ismi berfikir Miko pasti akan menemui Dara. Apa Miko sudah benar-benar menyukai Dara, hingga saat Ismi sakitpun, ia masih memikirkan Dara ?

Dara membuka pintu apartemen, dan itu Miko. Ia baru datang di malam selarut ini.

Dara     : Kamu dari mana saja ?


Miko    : Aku sibuk. Ada apa tadi Arin kesini ?

Dara     : Aku juga tidak tahu, dia hanya datang lalu pergi.

Miko    : Apa kamu mengatakan sesuatu ?

Dara     : Aku hanya mengatakan bahwa aku menyewa apartemen ini.

Miko    : Benarkah ? Bagaimana bisa kamu mengatakan kamu menyewa apartemen ini.

Dara     : Bukankah kamu yang pertama kali mengatakan aku menyewa apartemen ?

Miko    : Kapan ?!

Dara     : Ketika ada Rifky. Kamu mengatakan datang kesini untuk mengambil uang sewa. Jadi aku juga mengatakan pada Arin bahwa aku menyewa.

Miko    : Sudahlah !! Lupakan saja ?! Apa yang ingin kamu bahas sampai terus menerus menelpon ?!

Dara     : Oiya, waktu aku mendatangi Kristin, dia mengatakan hal penting.

Miko    : Hal penting ?! Apa ?!

Dara     : Sekolah Marsya. Dia seharusnya sudah mulai masuk sekolah tahun ini.

Miko    : Ahh,, itu. Jika hanya masalah itu, kenapa sampai membuat orang lain tegang.

Dara     : Apa yang membuatmu tegang ? Apa ada yang salah ?

Miko    : Tidak, tidak.

Dara     : Yasudah, jadi bagaimana dengan sekolah Marsya.

Miko    : Bagaimana apanya ? Tinggal disekolahkan saja. Lalu masalahnya apa ?

Dara     : Kamu !! Dia itu anakmu, Seharusnya kamu yang mengurusnya.

Miko    : Lalu untuk apa aku membayarmu ?

Dara     : Aku kira kedekatanmu dengan Marsya akhir-akhir ini bisa membuatmu lebih memperhatikannya, tapi ternyata aku salah. Kamu masih tidak bisa menerimanya.

Dara pergi meninggalkan Miko ke balkon. Sementara Miko, ia sedang bingung membayangkan Arin yang mungkin curiga pada Arin karena jawaban berbeda dari Miko dan Dara.
Miko mendatangi Dara di balkon.

Miko    : Maafkan aku, aku sedang banyak fikiran.

Dara     : Tapi bukan berarti kamu bisa mengabaikan Marsya.

Miko    : Karena itu aku minta maaf. Lalu apa kamu ada saran dimana sekolah Marsya ?

Dara     : Aku tidak terlalu tahu SD yang terbaik di Jakarta. Tapi menurutku kita cari sekolah terdekat dari sini. Tapi yang penting lagi, kamu harus mendaftarkan Marsya langsung karena kamu adalah orang tuanya.

Miko    : Aku ? Tidak bisa diwakilkan ?

Dara     : Tentu saja tidak bisa. Kamu ini walinya.

Miko    : Bagaimana kalau home schooling ?

Dara     : Apa ? Marsya sudah cukup kesepian, apa kamu masih harus mengurungnya dengan home schooling ?

Miko    : Baiklah. Aku akan mendaftarkan langsung sekolahnya.

Dara tersenyum mendengar jawaban Miko. Miko melihat senyuman Dara. Tanpa ia sadari, Miko terpesona dengan senyuman Dara. Ini bukanlah pertama kali dia melihat Dara tersenyum, tapi kenapa kali ini ada yang berbeda yang ia rasakan. Apa mungkin ia benar-benar sudah menyukai Dara ? Wajah Miko perlahan mendekati Dara, dekat dan semakin dekat hingga hampir bersentuhan. Dara menyadarkan Miko, Miko sadar dan terjatuh karena posisinya yang sangat miring.

Dara     : Kamu kenapa ?

Miko    : Tidak. tadi ada sesuatu di pundakmu.

Dara     : Benarkah ? Ada apa ?

Miko    : Sudah jatuh. Tadi hanya kotoran, mungkin ketombemu !

Dara     : Aku tidak punya ketombe. Enak saja !

Miko    : Kalau tidak percaya, periksa saja sendiri. Sudah malam, cepat tidur.

Dara     : Baiklah, Tapi malam ini, kamu tidur dikamar saja. Biar aku yang tidur diluar.

Miko    : Kenapa ?

Dara     : Setiap kali kamu disini, kamu selalu tidur diluar. Jadi malam ini, silahkan tidur dikamar.

Miko    : Jangan jangan. Kamu harus tidur dikamar. Biar aku yang tidur disini.

Dara masuk ke kamar, ia mengingat saat Miko terlihat seperti akan menciumnya. Dara memegang bibirnya, mungkinkah dia memang benar-benar akan menciumnya ?  Dara tersenyum membayangkan jika saja Miko benar-benar menciumnya. Tapi ia segera sadar, ada apa dengan dirinya, mengapa memikirkan Miko akan menciumnya ? yang benar saja, memangnya siapa Dara, tidak mungkin Miko akan menyukainya. Tapi bagaimana dengan Dara, ia merasakan hal aneh saat Miko mendekatinya, apakah ia mungkin mulai menyukai Miko ?

Dara mengucek matanya, ia melihat jam dan ini sudah jam 8 pagi. Untuk pertama kalinya ia bangun jam 8 pagi. Ia melihat Marsya masih tidur. Dara keluar kamar, ia melihat Miko juga masih tidur. Dara pergi ke kamar mandi, tiba-tiba bel berbunyi. Siapa yang datang sepagi ini ? Apa mungkin Rifky lagi ? Tapi ada Miko di dalam, ia tidak bisa membuka pintu jika itu Miko. Atau Arin, ada apa lagi dia kesini ?

Dara mengintip dari dalam, seorang ibu berdiri di depan pintunya. Siapa dia ? Dara berbalik dan segera membangunkan Miko. Ia menyuruh Miko untuk melihat ibu yang berdiri diluar. Miko bangun dan mengintip keluar. Itu adalah ibu Miko. Miko menyuruh Dara dan Marsya bersembunyi dan jangan keluar dari kamar.

Miko    : Ibu, Ada apa datang sepagi ini ?

Ibu       : Apa seorang ibu harus bertanya dulu jika ingin mengunjungi anaknya ?

Miko    : Tapi bukankah ibu tahu aku sudah pindah, kenapa datang kesini ?

Ibu     : Ibu datang kerumah, dan pembantumu bilang kamu tidak pulang. Jadi ibu fikir kamu ada di apartemen.

Miko    : Ada apa ?

Ibu       : Hanya ingin bertemu dan melihat keadaanmu. Terakhir kali kita bertemu saat ulang tahun Arin. Dan ibu sangat merindukanmu.

Miko    : Ibu . . .( Miko memeluk ibunya)

Ibu       : Apa kamu sudah sarapan ?

Miko    : Belum, aku baru saja bangun.

Ibu       : Apa ini, apa kamu tidur diluar

Miko    : Ohh, iya.. Aku tidur diluar, semalam nonton tv.

Ibu       : Ibu akan membuatkanmu sarapan. Ingin ibu buatkan apa ?

Miko    : Nasi goreng. Aku ingin nasi goreng.

Ibu      : Baiklah. Coba ibu periksa ada apa saja di dapurmu.(Ibu melihat kedalam kulkas, dan sangat kaget karena didalam kulkas sangat banyak bahan makanan.) Apa kamu sering memasak ?

Miko    : Sekali-kali

Ibu      : Sejak kapan kamu bisa masak. Bahan masakan ini sangat komplit. Ibu bukan hanya bisa membuat nasi goreng, tapi bisa memasak banyak makanan untukmu.

Miko    : Cukup nasi goreng saja ibu, aku sudah belajar memasak sendiri.

Ibu       : Baiklah. Baiklah. Sekarang sebaiknya kamu mandi, baumu membuat ibu tidak selera masak.

Miko menghampiri ibu, memeluk dan mencium pipinya.

Miko    : Ibu, aku ini seorang artis, aku sama sekali tidak bau.

Ibu memegang tangan Miko. Ia memang sangat merindukan Miko. Ia juga rindu melihat Miko saat bangun tidur. Miko dulu sering menciumnya ketika ia sedang memasak nasi goreng untuk sarapan. Dan sekarang ia memeluknya lagi, itu membuat Ibu tenang, walaupun ia masih mencurigai sesuatu di apartemen.

Saat Miko berada di kamar mandi, Ibu memeriksa seluruh isi apartemen. Ia membuka pintu kamar, tapi terkunci. Lalu ada 3 pasang sandal. Satu sandal pria, wanita dan anak kecil. Kecurigaan Ibu tentang wanita yang dibicarakan Arin semakin besar. Tapi siapa mereka ? Bagaimana mereka ada disini dan apa hubungan mereka ?

Selesai Miko sarapan, ia mengantarkan ibu ke rumah lalu langsung pergi ke tempat syuting. Setelah dirasa ibu dan Miko pergi, Dara keluar kamar bersama Marsya.

Marsya : Dara, ada apa ? Kenapa kita tadi bersembunyi ?

Dara     : Tidak ada apa-apa, tadi ada teman ayah, dan ia tidak tahu kita berada disini. Jadi daripada membuat teman ayah banyak bertanya. Kita lebih baik bersembunyi.

Marsya : Oh, sekarang mereka sudah pergi, apa kita bisa sarapan, aku sangat lapar.

Dara     : Tentu saja, cuci muka dulu sana, selesai itu sarapan akan segera siap.

Marsya : Baik.

Arin masih penasaran dengan perempuan di apartemen Miko. Ia harus pergi kesana lagi, tapi ia yakin Perempuan itu tidak akan mengijinkannya masuk dan bicara padanya. Arin ingat dengan Rifky. Rifky tinggal di apartemen yang sama dengan Miko. Arin melihat kartu nama memutuskan untuk menelpon Rifky.

Arin     : Halo, saya Arin. Apa ini Rifky ?

Rifky    : Oh, iya benar. Saya Rifky. Arin yang tempo hari menemukan dompet saya.

Arin     : Iya, begini. Mengenai tawaran kamu untuk minum kopi.

Rifky    : Apa kamu sudah ada waktu ?

Arin     : Waktunya, kamu aja yang nentuin.

Rifky    : Baiklah, sore ini ?

Arin     : Bisa, bisa. Sore ini, kita bertemu di kafe apartemen kamu.

Rifky    : Kafe apartemen ?

Arin     : Iya, bagaimana ?

Rifky    : Jam berapa ?

Arin     : Jam 4 sore. Bisa ?

Rifky    : Bisa, kalau gitu, sampai nanti.

Rifky menutup telpon dari Arin. Ia tersenyum, Arin terlihat sangat elegan. Tapi hanya dalam waktu 2 hari ia menghubungi Rifky dan menagih janji minum kopi. Bukankah itu sedikit aneh ?

Hari ini jam 11 Miko, Dara dan Marsya pergi secara terpisah ke sekolah dimana Marsya akan didaftarkan. Salah satu SD bertaraf Internasional, SD dimana dulu Miko juga bersekolah. Sekolah itu tidak akan membocorkan data pribadi siswa pada pihak lain. Karena itu Miko merasa aman menyekolahkan Marsya disitu, tanpa takut rahasiannya akan terbongkar.

Pendaftaran sekolah tidak berlangsung lama, satu jam kemudian, Miko keluar dari ruang guru. Miko keluar dari sekolah dan menemui Dara yang sedari tadi menunggu di mobil Miko.

Dara     : Sudah selesai ? aku fikir akan lama.

Miko    : Sudah, tidak terlalu lama karena aku mengenal staff disana. Dan Marsya, apa yang ingin kamu makan sekarang ?

Marsya : Aku ingin makan apa yang ayah suka.

Miko    : Begitu rupanya ? Baiklah. Kita berangkat sekarang.

Miko membawa Dara dan Marsya ke restoran sate di daerah Menteng.

Miko    : Ini dia. Makanan favorit ayah. Marsya makanlah yang banyak, agar cepat tumbuh besar.

Marsya : Sate ? Ayah suka sate ? Waahh ,, aku juga suka. Tapi belum pernah datang ke tempat seperti ini. Sate yang aku beli hanya di sebuah kedai.

Dara     : Apakah sate disana enak ?

Marsya : Enak. Paling enak.

Miko    : Kalau gitu, ajak ayah kesana ?

Marsya : Tapi aku tidak tahu dimana kedainya. 

Miko    : Ayah akan cari tahu, apa kamu ingat apa nama kedainya ?

Marsya : Nenek bilang kedai bang Ali.

Miko    : Baiklah, ayah akan mencarinya. Untuk anak ayah.

Part 18

No comments:

Post a Comment