Monday, 15 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 14)

   Part 13

1      

        14.  KEMBALI MENYEBALKAN

Miko membawa Dara masuk ke mobilnya lalu membawa Dara pulang. Dara tidak menolak, ia masih memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya lagi ia melihat Anton setelah perceraian mereka. Tidak banyak yang berubah pada Anton, satu-satunya yang berubah adalah wanita di samping Anton. Dulu ketika ia sering jalan-jalan, yang menggandeng Anton adalah dirinya. Tapi sekarang, wanita lain menggantikan posisi nya. Tanpa ia sadari air matanya jatuh. Ya, Dara menangis. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Miko dan Marsya juga hanya bisa diam. Meskipun Marsya masih belum dewasa, tapi ia tahu bahwa Dara sedang sedih, dan ia juga tidak bisa menghibur Dara. Begitu juga dengan Miko. Kekesalannya ketika melihat Dara bersama Rifky kini berganti menjadi iba. Perasaan bersalahnya muncul lagi karena ia merasa ia juga salah satu penyumbang kesedihan Dara.

Sesampainya di apartemen, Miko menyuruh Dara istirahat.

Miko    : Kamu istirahat saja, biar Marsya aku urus.

Dara     : Terimakasih, tapi tidak usah. Ini sudah pekerjaanku. Terimakasih juga sudah mengantar kami. Kamu sekarang bisa langsung pulang dan beristirahat.

Miko    : Kamu ini kenapa keras kepala sekali. Aku menyuruhmu untuk istirahat dan Marsya akan aku urus. Lagipula aku ini ayahnya, kamu tidak punya hak untuk melarang atau mengusirku.

Dara     : Bukan maksudku seperti itu, aku hanya tidak mau menyusahkan orang lain.

Miko    : Kau anggap aku orang lain ?

Dara     : Maksudmu ?

Miko bingung dengan apa yang ia katakan. Mengapa ia mengatakan ia bukan orang lain pada Dara.

Miko    : Maksudku, aku ini ayah Marsya, jadi bukan orang lain baginya. Mengerti ?!

Dara     : Iya aku mengerti. Tapi tunggu sebentar, tadi apa yang kamu lakukan di mall dengan pakaian seperti ini ? Apa kamu mengikuti kami ?

Miko    : A . . Aku tadi ada urusan. Untuk apa mengikuti kalian, buang-buang waktu saja.

Dara     : Lalu sekarang apa urusanmu sudah selesai ?

Miko    : Kamu tidak perlu tahu, itu urusanku. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja.

Dara     : Baiklah. Eh, tapi sebentar. Aku tadi berangkat dengan Rifky. Lalu pulang tanpa berpamitan padanya. Jangan-jangan dia sekarang mencariku. Lebih baik aku telpon dulu sebelum dia kebingungan.

Dara mengambil ponsel dari tasnya dan akan menelpon Rifky. Tapi Miko merebut ponsel Dara.

Miko    : Sudah aku bilang istirahat. Tidak perlu memikirkan yang lain lagi.

Dara     : Tapi aku tidak tenang jika tidak menelponnya.

Miko    : Tidak tenang bagaimana, memangnya dia kekasihmu ?

Dara     : Bukan

Miko    : Lalu untuk apa merasa tidak tenang. Apa mungkin kamu suka padanya ?

Dara     : Tentu saja tidak, dia hanya temanku. Aku tidak tenang karena merasa bersalah padanya.

Miko    : Sudah tidak perlu di fikirkan, dia tidak akan mencari di mall. Lagipula tadi disana banyak orang dan ia bisa menanyakanmu pada orang-orang. Jadi tidak perlu menelponnya.

Miko membawa Dara ke kamar, lalu menyuruhnya untuk beristirahat. Ia kembali ke ruang TV dan mengajak Marsya bermain. Melanjutkan bangunan Lego yang belum selesai kemarin.

Marsya       : Ayah, hari ini ayah sangat keren. Tadi aku juga kesal dengan wanita hamil itu. Tapi melihat ayah datang, ayah seperti seorang pahlawan yang menyelamatkan Dara.

Miko            : Benarkah ?

Marsya         : Tentu saja. Aku merasa bangga mempunyai ayah seperti ayah.

Miko           : Baiklah, kalau begitu. Terimakasih pujian besarnya. Sekarang kita lanjutkan bangunan yang kemarin belum selesai.

Marsya         : Tapi ayah,

Miko            : Ada apa ?

Marsya         : Bangunan yang kemarin rusak.

Miko            : Itu artinya pekerjaan kita banyak dan kita harus lebih bekerja keras untuk memperbaikinya.

Marsya         : Iya, aku setuju !

Jam 5 pagi Dara bangun, ia melihat Marsya sudah tidur bersamanya. Dara keluar kamar dan Miko juga sedang tidur di sofa. Dara perlahan ingat kejadian kemarin. Ia tersenyum mengingat sikap Miko kemarin yang sangat berbeda. Ia tidak menyangka dibalik sosok Miko yang dingin dan selama ini tidak peduli ternyata ia begitu baik dan perhatian. Saat Dara sadar, ternyata ia sedang memperhatikan wajah Miko begitu dekat. Dara segera berdiri dan memukul-mukul wajahnya. Bagaimana bisa ia memandang wajah Miko dan tersenyum membayangkannya. Tidak boleh. Ini tidak benar.

Dara segera pergi ke kamar mandi, ia mandi dan mulai membereskan apartemen. Ia melihat bangunan Lego yang sudah dibangun Miko dan Marsya. Sebuah istana dengan beberapa robot di depannya. Dara ingin membereskan ruang tv, tapi takut bangunan itu akan rusak seperti kemarin, Dara pun melewati ruang tv dan membereskan ruangan lain.

Seperti biasa setelah membereskan apartemen, Dara menyiapkan sarapan. Kemarin ia sudah membuat nasi goreng, sekarang mungkin bisa membuat roti isi. Dara menyiapkan isian dengan daging bakar dan sayuran. Saat Dara akan memanggang daging. Miko datang dan duduk di meja makan.

Miko    : Hari ini sarapan apa ?

Dara     : Roti isi

Miko    : Bikin itu lama, kenapa ga nasi goreng aja ?!

Dara     : Ga lama ko, palingan cuma 30 menitan.

Miko    : Ya itu lama,  nasi goreng aja yang cepet. Aku ke kamar mandi bentar, abis itu nasi goreng harus sudah siap.

Dara kembali kesal pada Miko, kemarin ia sangat terlihat berbeda, tapi hari ini sifatnya kembali seperti semula. Menyebalkan dan keras kepala. Dara memasukan kembali bahan-bahan yang sudah setengah jadi kedalam kulkas, lalu ia mulai menyiapkan nasi goreng.

Jam setengah 8 pagi, nasi goreng sudah siap. Miko pergi ke kamar untuk melihat Marsya. Miko perlahan membuka selimut Marsya yang menutupi wajahnya. Ketika Miko membuka, Marsya mengagetkan Miko. Ia terbangun ketika Miko membuka pintu kamar, lalu berpura-pura untuk mengagetkan Miko. Miko yang kaget tertawa ia kembali menutup selimut Marsya. Mereka pun bermain buka tutup selimut. Dara yang mendengar tawa mereka dari kamar pergi melihat apa yang terjadi, ia tersenyum ketika melihat Marsya dan Miko yang tertawa dan becanda seakrab itu.

Mereka bertiga sarapan, tiba-tiba bel berbunyi. Dara pergi membuka pintu, ternyata RIfky yang datang.

Dara     : Rifky, ada apa pagi-pagi kesini ?

Rifky    : Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa kemarin ngilang gitu aja. Aku khawatir nyariin kamu kemana-mana.

Dara     : Oiya, aduh maaf banget yah. Kemarin ada hal penting yang mendadak, jadi lupa ngabarin kamu. Maaf yah.

Rifky    : Gapapa. Yang penting kamu baik-baik aja. Its ok. Kalo gitu aku jalan dulu yah.

Dara     : Iya, makasih dan hati-hati yah.

Miko    : Siapa Dar ?

Rifky yang mendengar suara laki-laki menghentikan langkahnya dan melihat pria yang memanggil Dara. Tentu saja ia sangat kaget seorang pria berada di satu apartemen dengan Dara.

Rifky    : Siapa dia Dara ?

Dara bingung harus menjawab pertanyaan siapa dan apa jawabannya. Rifky pasti sangat curiga karena ia melihat Miko dua kali di apartemennya. Ditambah lagi Rifky tidak tahu orang tua Marsya. Tapi jika Rifky tidak tahu Marsya anak Miko, ia pasti akan berfikir bahwa Ia dan Miko mempunyai hubungan. Bagaimana ini ?

Miko melihat Rifky, ia adalah pria yang kemarin bersama Dara di mall. Tapi apa yang dia lakukan sepagi ini, saat itu dia makan malam, kemarin dia jalan di mall dan sekarang sepagi ini dia datang. Sebenarnya siapa dia ? dan apa hubungannya dengan Dara ? Apa mungkin pria ini tahu siapa Marsya ?
Mereka bertiga diam sesaat, sampai akhirnya Miko ambil suara.

Miko    : Apa yang kamu lakukan ? sekarang berikan aku uang sewa apartemen ini ! Dan pria ini ? siapa dia ? kekasihmu ?!

Rifky    : Bukan, aku hanya temannya. Baiklah Dara, aku akan pergi sekarang. Aku akan menelponmu nanti.

Dara     : Baiklah.

Rifky masih belum beranjak, tapi Miko segera menarik Dara dan menutup pintu tepat di depan muka Rifky. Hal itu membuat Dara kesal. Sementara Rifky semakin curiga pada hubungan Dara dan Miko. Ada apa sebenarnya diantara mereka ? tidak mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja.

Dara     : Apa yang kamu lakukan ?

Miko    : Apa ? Aku tidak melakukan apa-apa. Lagipula dia sudah berpamitan. Jadi tidak salah jika hanya menutup pintu.

Dara     : Tapi tidak harus seperti itu,

Miko    : Lalu bagaimana ? Membiarkan dia pergi dengan muka tetap manis, atau melambaikan tangan pada kepergiannya. Dia hanya pergi bekerja, bukan pahlawan yang pergi ke medan perang. Sudahlah cepat habiskan sarapanmu.

Dara melanjutkan sarapan, meskipun ia masih kesal.                  

Dara     : Menurutku, jika kamu terlalu sering datang kesini, orang lain akan curiga.

Miko    : Orang lain siapa ? Selain teman priamu itu, tidak akan yang curiga. Karena itu, yang seharusnya tidak datang kesini bukan aku, tapi pria itu.

Dara     : Namanya Rifky.

Miko    : Kamu fikir aku ingin tahu namanya !

Dara     : Bukan begitu, tapi  . . .

Miko    : Sudah lakukan saja apa kataku ! aku tidak ingin berdebat. Lagipula akhir-akhir ini aku akan sering datang kesini, jadi pastikan pria itu tidak akan datang kesini.

Dara     : Kenapa? Bukankah kamu sangat sibuk.

Miko    : Sutradara sedang sakit, jadi aku punya waktu beberapa hari untuk beristirahat.

Dara     : Benarkah ? apakah sutradara itu suami Kristin ?

Miko    : Ya, kenapa ? kamu kenal dia ?

Dara     : Tentu saja, bukankah kita bertemu di pesta ulang tahun anaknya. Kalau begitu, hari ini aku sebaiknya bertemu dengan Kristin.

Miko    : Yang sakit itu suaminya, bukan istrinya.

Dara     : Aku tahu, tapi aku tidak ada urusan dengan suaminya. Urusanku dengan Kristin.

Miko    : Urusan apa ?

Dara     : Bukan urusanmu.

Miko    : Katakan urusan apa itu

Dara     : Kenapa kamu ini ?! Sudah kubilang bukan urusanmu. Kamu sudah selesai sarapan, sekarang cepat pergi !

Miko    : Apa hakmu mengusirku, lagipula ini apartemenku. Yang seharusnya pergi itu bukan aku !

Dara     : Jadi aku diusir !!

Miko    : Kamu lebih dulu !!

Marsya   : Sudah-sudah. Seharusnya disini yang bersikap seperti anak kecil bukan kalian tapi aku.

Miko dan Dara diam. Benar, mereka bertengkar hingga lupa bahwa ada Marsya di antara mereka. Dara mengakhiri perdebatan lalu pergi ke dalam kamar. Miko juga pergi dari apartemen dan meninggalkan sarapannya. Marsya segera mengejar ayahnya.

Marsya    : Ayah akan pergi kemana ?

Miko        : Hmmm, tentu saja akan pergi bekerja.

Marsya    : Bukahkah tadi ayah berkata sedang libur ?

Miko    : Tidak sayang, ayah bukan libur, hanya tidak terlalu sibuk. Tapi itu bukan berarti ayah libur. Jadi tetap harus pergi. Ayah pergi dulu, sampaikan pada Dara agar tidak terus cemberut karena mukanya sudah cukup banyak keriput.

Marsya tertawa dengan ejekan Miko. Miko mencium kening Marsya, lalu pergi dari apartemen. Ia ingin berpamitan pada Dara, namun mengurungkan niatnya karena pasti pada akhirnya mereka akan berdebat lagi. 

Part 15

No comments:

Post a Comment