Monday, 8 June 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 12)


  Part 11

12.  KADO PERMINTAAN MAAF

Miko terbangun di pagi hari dengan kepala pusing. Bagaimana tidak, semalam ia tidur sangat malam karena memikirkan Marsya. Membayangkan betapa kecewanya Marsya pada dirinya. Ia melihat jam menunjukan pukul 9 pagi. Miko melihat ponselnya, belum ada telpon dari Ismi. Ia pun ingat bahwa Ismi sedang sakit jadi tidak mungkin menelponnya. Miko bergegas mandi dan pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ismi.

Dara melihat kalender, hari ini jadwal kontrolnya di bulan pertama setelah operasinya. Sebelumnya ia ingin menitipkan Marsya pada Miko, namun karena kejadian kemarin, ia berubah fikiran dan terpaksa harus membawa Marsya ke rumah sakit bersamanya.  Setelah selesai bersiap, mereka pergi dan menunggu bis di halte yang tidak jauh dari apartemen. Ketika mereka sedang menunggu bis, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.  Sang pengemudi membuka kaca dan ternyata itu adalah Rifky.

Rifky    : Dara, kamu mau kemana pagi-pagi begini ?

Dara     : Ke rumah sakit, hari ini jadwal check up pasca operasi.

Rifky    : Kebetulan kalo gitu kita searah. Yo naik, daripada nunggu bis lama.

Dara     : Makasih, tapi saya naik bus aja.

Tanpa Dara sangka, Marsya langsung naik ke mobil Rifky. Dan tentu saja Dara tidak bisa mencegahnya. Marsya dan Rifky memang sudah dekat meskipun mereka baru dua kali bertemu. Mungkin itu karena Rifky yang membuat Marsya nyaman berada didekatnya. Dara akhirnya naik ke mobil Rifky.

Satu jam kemudian mereka sampai di rumah sakit. Jam menunjukan pukul 10 pagi. Satu jam kemudian Dara selesai check up, pemeriksaannya memang hanya memakan waktu 15 menit, yang lama justru ketika ia mengantri karena ia datang jam sepuluh dan mendapat no antrian ke 7. Kondisi rahim Dara juga semakin baik, ditambah lagi Dara tidak melakukan hubungan seks pasca operasi dan itu membuat rahimnya cepat membaik.

Dara sedang berjalan untuk pulang bersama Marsya di lorong rumah sakit, dari kejauhan ia melihat pria yang mirip dengan Miko yang berjalan membelakanginya dengan seorang wanita. Dara mengajak Marsya untuk berjalan lebih dekat agar bisa memastikan apa itu Miko atau bukan. Tapi Miko terlalu jauh hingga Dara tidak bisa mengejarnya. Miko sudah akan naik mobil, ia membukakan pintu untuk  perempuannya lalu pergi dari rumah sakit.

Dara berfikir bahwa alasannya tidak datang kemarin adalah untuk perempuan itu, tapi siapa dia ? Miko selalu sibuk pada  Marsya tapi dia selalu ada pada perempuan yang lain. Pertama untuk adiknya, ia rela tidak bekerja untuk menemani adiknya liburan. Dan sekarang, Miko mengabaikan Marsya juga untuk perempuan. Tapi ia fikir perempuan ini bukan adik Miko, karena Arin berambut pendek, sedangkan perempuan yang bersama Miko kali ini berambut panjang. Lalu dia siapa ?

Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, perjalanan dari rumah sakit ke apartemen pasti lebih dari satu jam karena memakai kendaraan pribadi saja sudah satu jam. Dan Marsya pasti akan kelaparan karena ia selalu tepat makan siang. Dara memutuskan untuk makan siang di kantin rumah sakit.

Dan kebetulan terjadi lagi, saat Dara mencari kantin, ia bertemu dengan Rifky.

Rifky    : Bagaimana check upnya ? sudah selesai ?

Dara     : Sudah. Dan aku lega karena semuanya semakin baik.

Rifky    : Benarkah ?

Dara     : Ya, aku sangat lega sekarang. Ternyata semuanya tidak seburuk yang aku fikirkan.

Rifky    : Tentu saja, jadi jangan terlalu difikirkan karena hal itu hanya akan membuatmu stress.

Dara     : Iya. Oiya, apa kamu tahu arah menuju kantin ?

Rifky    : Kantin ? Kamu jalan lurus, nanti habis gedung ini belok kanan dan kantinnya ada di ujung sana.

Dara berterimakasih lalu pergi bersama Marsya ke arah yang ditunjukan Rifky. Rifky melihat jam tangan sudah pukul jam 11 siang, ia memanggil Dara kembali.

Dara     : Ada apa ?

Rifky    : Apa mungkin kamu sudah akan makan siang ?

Dara     : Iya, karena Marsya tidak bisa telat makan, karena itu kami akan makan dulu dan setelah itu baru pulang.

Rifky    : Apa kamu tidak mengajaku bergabung ?

Dara     : Makan ? Ahhh ,, ya apa kamu juga mau makan siang ?

Rifky    : Tentu saja, tapi jika ada yang mentraktir. Apalagi baru saja seseorang berkata hasil ceck up nya sangat baik, tentu saja aku fikir aku akan makan siang gratis hari ini.

Dara     : Makan siang gratis ? ba. . baiklah ! Aku akan mentraktirmu ( Dara memikirkan isi dompetnya yang tidak lebih dari 100 ribu, apakah itu cukup ?)

Rifky melihat ekspresi Dara, ia tersenyum karena merasa berhasil mempermainkan Dara.

Rifky    : Tenang saja, aku tidak serius. Justru seharusnya aku yang mentraktir kalian, karena waktu itu aku dijamu makan malam yang sangat lezat.

Dara     : Benarkah ? Tapi tidak perlu, lagipula itu bukan sebuah hutang yang harus dibayar.

Rifky    : Tenang saja, tidak usah malu. Ayo cepat ke kantin, nanti tidak dapat kursi karena penuh.

Dara makan siang bersama Marsya dan Rifky. Mereka kembali makan sambil bercerita banyak hingga tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 1 siang. Rifky harus kembali ke ruangannya karena ia sudah hampir dua jam tidak ditempat.

Dara kembali ke apartemen jam 3 sore. Saat ia masuk,ternyata sudah ada Miko didalam. Melihat Dara dan Marsya yang langsung pulang, Miko memarahi mereka. Dara menyuruh Marsya masuk kedalam kamar.

Miko    : Darimana saja kalian ?

Dara     : Apa urusanmu ? ada atau tidak ada, hadir atau tidak hadir. Apa itu penting untukmu ?!

Miko    : Apa maksudmu ??

Dara     : Bahkan sampai sekarang, kamu belum juga mengerti ?! baiklah tidak perlu mengerti, tidak perlu pedulikan apapun. Lagipula bukankah seorang anak itu hanya sebuah beban untukmu.

Dara masuk kamar dan meninggalkan Miko. Miko menyuruh Dara keluar kamar, tapi Dara tidak menghiraukannya. Ia bersyukur tadi sempat makan siang di kantin, sehingga ia dan Marsya bisa diam di kamar tanpa perlu kelaparan. Sementara Miko kesal dengan sikap Dara, anaknya pun tidak marah, bagaimana bisa Dara semarah itu padanya. Miko awalnya ingin meminta maaf atas insiden kemarin, namun karena terlanjur kesal dengan Dara, niatnya langsung hilang dan ia pun pergi meninggalkan apartemen tanpa menunggu Dara dan Marsya keluar dari kamar.

Miko kembali ke kantor dengan muka suntuk, disana sudah ada Ismi. Ismi tahu kemarin Miko tidak datang ke taman bermain sebagaimana yang ia inginkan. Ismi sebenarnya merasa bersalah dengan Marsya, karena satu-satunya alasan ia tidak ingin Miko datang hanyalah Dara.

Ismi      : Lo kenapa ? mukanya ga enak banget !

Miko diam tidak menjawab pertanyan Ismi. Ismi melanjutkan lagi perkataannya

Ismi      : Apa mungkin ini karena kemarin acara kalian gagal ?

Miko masih diam tidak menjawab Ismi.

Ismi      : Sory yah, gara-gara gue acara lo jadi berantakan. Apalagi ini acara pertama lo sama Marsya.

Miko akhirnya menjawab perkataan Ismi.

Miko    : Bukan, ini emang gue aja yang ga peka. Seharusnya kalo gue peka, sesibuk apapun gue bisa ngabarin mereka.

Ismi      : Gini aja, sekarang gue anter ke tempat mainan anak-anak. Dan lo bisa beli kado sebagai permintaan maaf lo ke Marsya. Meskipun gue ga yakin sedihnya bakalan ilang, tapi seenggaknya lo ada usaha buat menebus kesalahan lo.

Miko    : Bener juga, yaudah sekarang berangkat. Hari ini gue ga ada jadwal lagi kan ?

Ismi dan Miko pergi ke toko mainan anak-anak. Miko belum pernah membeli kado untuk anak kecil, Ismi pun menyarankan untuk memberikannya sebuah karpet puzzle dan lego untuk Marsya.  

Malamnya Miko kembali pergi ke apartemen, ia sudah membawa sebungkus kado besar untuk Marsya. Dara membuka pintu dan masih kesal dengan Miko. Ia sebenarnya tidak ingin membiarkan Miko masuk, tapi itu tidak mungkin karena ada batasan dimana ia bisa marah dan tidak. Dan kali ini ia mungkin tidak bisa marah karena Miko ingin bertemu dengan anaknya.

Marsya melihat Miko membawa sebuah kado besar. Ia masih sedih karena insiden kemarin, jadi meskipun ia penasaran dengan kado dari ayahnya, ia tetap diam menonton tv. Miko menghampiri Marsya dan memberikannya kado. Ia tidak bisa memulai pembicaraan dengan Marsya, karena itu ia hanya menyimpan kadonya di dekat Marsya dan duduk tak jauh dari Marsya menunggu reaksi Marsya selanjutnya. Sementara Dara berada di dapur melanjutkan masak untuk makan malamnya.

Marsya masih diam, sangat terlihat bahwa ia penasaran dengan kado dari Miko. Dara melihatnya dan merasa kasihan dengan Marsya. Sambil memasak ia berkata pada Marsya.

Dara                     : Marsya, apakah kado itu hanya untuk dilihat ? Setidaknya ayahmu sudah memberikan kado, tidak kah sebaiknya kamu berterimakasih ?

Marsya                : Tapi bukankah Dara kemarin marah pada ayah ?

Dara               : Ya, sangat marah. Karena ia mengacuhkan gadis cantik sepertimu. Tapi sekarang bukankah ayah sudah datang dan membawa kado.

Marsya                : Tapi bukankah jika seseorang bersalah ia harus meminta maaf, kenapa ayah membawa kado dan tidak meminta maaf ?

Miko diam mendengar perkataan Marsya, ia sebenarnya ingin meminta maaf namun rasa malu mengalahkannya.

Dara                     : Kado itu mungkin permintaan maafnya. Dara rasa, mungkin dia sedang sakit gigi sehingga tidak bisa bicara. Tapi bagaimanapun, berterimakasihlah pada ayah karena dia sudah memberikan mu kado.

Perkataan Dara membuat Marsya senang, ia tersenyum pada Miko. Miko membalas senyuman Marsya. Dan diluar dugaan Marsya berterimakasih dengan memeluk Miko. Itu membuat Miko menjadi salah tingkah. Tidak menyangka anaknya akan sebahagia ini. Setelah suasana menjadi hangat, Miko meminta maaf pada Marsya, dan mereka membuka kado bersama.

Miko berfikir Dara masih marah padanya. Ia tidak ingin pertengkarannya kembali berlanjut. Meskipun hubungannya dengan Marsya sudah membaik, tapi sepertinya tidak dengan Dara. Karena itu, ketika Dara selesai memasak, Miko memilih pamit pulang. Tapi Dara menahannya.

Dara     : Tidakkah kamu ingin makan bersama Marsya juga ?

No comments:

Post a Comment