Thursday, 28 May 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 7)

Part 6


1.       7. JADI SEORANG PENGASUH

Jam 8 Dara sudah berada di rumah Miko. Ia sudah siap untuk bekerja sebagai pengasuh Marsya. Miko kemudian membawa Dara dan Marsya ke apartemennya di kawasan Kuningan. Apartemen itu adalah pemberian dari ibu Miko saat Miko di usir dari rumah oleh ayahnya. Dara terkesima karena ia tidak berfikir ia akan tinggal berdua dengan Marsya di apartemen yang menurutnya cukup mewah. Dalam apartemen tersebut terdapat ruang tamu,dapur,meja makan dan 1 buah kamar.

Miko          : Kamu tinggal disini untuk menjaga Marsya. Karena hanya ada 1 kamar, kalian bisa tidur berdua. Dan ini uang untuk keperluan Marsya selama seminggu,kamu harus mempergunakannya dengan baik. Dan berikan laporan pengeluaran uangnya kepadaku, aku akan memberikannya lagi minggu depan, jangan lupa berikan apapun yang Marsya butuhkan. Dan juga beri dia makanan yang baik. Ingat, jangan biarkan dia sakit, pastikan dia selalu baik-baik saja. Mengerti !



Dara           : Ya, aku mengerti. Sshhhhhhhhhh tapi sebagai pria, menurutku kamu terlalu banyak bicara. Jadi sekarang, apa kamu akan pergi atau tetap disini dan membantuku membereskan apartemenmu ?

Miko          : Dasar bodoh ! untuk apa aku membantumu. Baiklah kerjakan dengan baik. Aku pergi !

Miko pergi meninggalkan Dara dan Marsya, Marsya tak berkedip memandangi Miko saat Miko pergi meninggalkannya. Miko sendiri acuh pada Marsya. Miko tidak tahu, bahwa selain materi, Marsya juga membutuhkan perhatian darinya.

Dara           : Baiklah, nona kecil. Kita belum kenalan. Perkenalkan saya Dara, nona bisa panggil saya bibi, tante atau panggil nama juga tidak apa-apa.

Marsya      : Dara, begitu saja aku akan memanggilmu. Dan aku Marsya.

Marsya pergi meninggalkan Dara ke kamar. Ia masih kesal ayahnya sama sekali tidak menatapnya tadi. Dara menghela nafas melihat sifat Marsya. Ia merasa Marsya ada sedikit kesamaan dengan Miko, mereka menyebalkan pada pertemuan pertama.

Hari ke 1

Dara membersihkan apartemen, ia menyapu, mengepel, dan membersihkan debu yang menempel. Setelah semuanya beres, ia kekamar membereskan baju-bajunya dan baju Marsya. Ia kemudian mengajak Marsya untuk makan diluar karena hari ini sudah sore dan ia lelah untuk masak. Marsya masih dingin seperti tadi, ia tidak menolak ajakan Dara, tapi juga tidak bersemangat untuk makan. Meskipun begitu, Dara tetap mengajak Marsya pergi keluar, dan akhirnya mereka makan di restoran fastfood.

Hari ke 2

Hubungan Dara dan Marsya belum juga baik. Dara mengajak Marsya berbelanja makanan, tapi Marsya menolak dan beralasan ingin menonton tv. Dara merasa percuma ia memaksa Marsya, melihat mood Marsya yang masih jelek seperti kemarin. Akhirnya Dara pergi sendiri ke swalayan, ia membeli sayuran, daging, susu, buah-buahan dan beberapa cemilan.

Saat Dara pulang dari swalayan, betapa kagetnya ia melihat keadaan apartemen seperti kapal pecah. Kursi tamu berantakan, vas bunga pecah, dapur penuh dengan ceceran air. Dara mencari Marsya, dan ternyata Marsya sedang tidur pulas di lantai kamar. Dara kesal melihat kenakalan Marsya. Ia sama sekali tidak berfikir bahwa Marsya tidak ikut dengannya karena ingin mengerjainya. Dan hari ini, tenaganya kembali habis terkuras.

Hari ke 3

Dara tidak pergi kemana-mana. Stok makanan masih ada, jadi Dara tidak perlu pergi berbelanja. Ia hanya memasak, memberi makan Dara dan menelpon Miko. Dara sudah 3 hari tinggal bersama Marsya, tapi Miko sama sekali tidak datang menengok Marsya, bahkan untuk menelpon menanyakan kabar Marsya pun tidak. Karena itu Dara memutuskan untuk menelpon Miko lebih dulu.

Miko          : Ada apa ?

Dara           : Ada apa ! sudah 3 hari semenjak aku tinggal bersama anakmu, tapi kamu sama sekali tidak menanyakannya ?! apa kamu tidak khawatir terjadi sesuatu dengan Marsya.

Miko          : Karena itu aku bertanya ada apa ? langsung saja aku sibuk !

Dara           : Hey, kamu ini ayah macam apa ? pada anakmu saja tidak peduli ! apa kamu tidak penasaran bagaimana tidurnya, makannya dan bermainnya ?!

Miko          : Dengar, aku ini sangat sibuk. Jika kamu hanya menelponku untuk hal yang tidak penting, lupakan saja. Selama Marsya dalam keadaan baik, tidak perlu mengabariku. Mengerti !

Dara           : Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak percaya ada ayah sedingin ini ! bahkan singa pun menyayangi anaknya. Baiklah, aku tidak akan menelponmu jika itu yang kamu minta !

Dara menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Miko. Dua hari kemarin ia kesal dengan Marsya, tapi hari ini ia merasa iba. Bagaimana mungkin anak sekecil ini harus mendapat perlakuan dingin dari ayahnya. Dara mencoba menyenangkan Marsya dengan mengajaknya bermain, meskipun hal itu sedikit kaku karena Marsya masih bersikap dingin padanya.

Hari ke 4

Dara mengajak Marsya ke swalayan, meskipun Marsya menolak, tapi kali ini Dara tidak ingin tertipu oleh Marsya. Ia sedikit memaksa Marsya dan berjanji akan membelikannya mainan. Marsya pun akhirnya menurut. Tapi bencana terjadi di swalayan. Saat Dara sibuk memilih sayuran, Marsya berjalan sendiri ke tempat barang pecah belah. Dan tentu saja bisa ditebak apa yang ia lakukan, Marsya memecahkan satu deret hiasan rumah dari barang pecah belah.

Dara kembali harus dilaporkan ke kantor polisi karena di anggap lalai menjaga anak di tempat umum hingga menyebabkan kerugian sekitar 7 juta. Dara harus membayar kerugiannya jika ingin terbebas. Dara juga diberatkan karena tidak mempunyai KTP. Tidak ada jalan lain, Dara kembali menelpon Miko untuk yang kedua kalinya karena berada di kantor polisi.

Miko tengah sibuk syuting, dan ia memarahi Dara yang teledor menjaga Marsya. Miko tidak bisa meninggalkan tempat syuting karena pekerjaannya belum selesai. Dara harus menunggu selama 4 jam di kantor polisi bersama Marsya. Marsya menangis ketakutan berada di kantor polisi.

Dara           : Dengar Marsya, tempat ini adalah tempat untuk orang-orang nakal. Karena itu kita berada disini. Seharusnya kamu tidak memecahkan barang-barang di supermarket tadi. Sekarang saya tidak tahu sampai kapan kita berada di sini, karena sampai sekarang ayahmu belum juga datang.

Marsya mengangguk tanda mengerti perkataan Dara. Tidak lama kemudian Miko datang. Ia melihat Marsya dan Dara duduk di pojok kantor polisi sedang menunggunya. Miko mendatangi petugas polisi, dan ia kaget karena polisi tersebut adalah Arman,kawan lamanya ketika di SMP. Setelah menyelesaikan urusan Dara dan Miko mengganti kerugian pada supermarket. Miko dan Arman mengobrol karena sudah lama tidak bertemu.

Arman       : Mik, lu ada hubungan apa sama perempuan itu ? ( perempuan yang dimaksud Arman adalah Dara)

Miko          : Ga ada apa-apa,gue cuma ada urusan kerjaan aja. emang kenapa ?

Arman       : Kalo cuma urusan  kerjaan, kenapa sampe lo megang KTPnya ?

Miko          : I I iya, maksud gue, dia kerja di rumah gue, dan sebagai jaminan, gue pegang KTPnya.

Arman       : Tapi kalo bisa, ni KTP lu serahin aja ke itu cewe, dan jauh-jauh dari dia, kayanya dia sedikit bermasalah.

Miko          : Maksud lo ?

Arman       : Gue liat di catatan kepolisian, dia belum lama ditangkap karena pencurian di rumah mantan suaminya.

Miko          : Apa, mantan suaminya ?

Setelah mengobrol dengan Arman, Miko mengantar Dara dan Marsya pulang ke apartemen. Disana, Miko memarahi Dara dan Marsya.

Miko          : Kamu Dara, bagaimana bisa kamu sebodoh ini, hanya menjaga seorang anak saja sampai harus berurusan dengan polisi. Dan Marsya, kamu bilang kamu ini anakku, tapi kenapa kamu selalu membuatku berada dalam masalah. Bisakah kamu jadi anak yang baik ? yang tidak merepotkan orang lain dan tidak menempatkan orang lain pada masalah ?

Dara           : Cukup, tidak perlu memarahi Marsya, dia hanya seorang anak kecil,bagaimana mungkin kamu memarahinya seperti itu. Lagipula wajar seorang anak merepotkan ayahnya sendiri. Jika ingin marah, cukup marahi aku saja. Marahi aku sampai kau puas ! Mengerti !

Dara membawa Marsya yang menangis kedalam kamar meninggalkan Miko. Mikopun pergi meninggalkan apartemen itu dalam keadaan marah. Dara berusaha menenangkan Marsya yang masih menangis. Dara mengerti bagaimana perasaan Marsya saat ini.

Dara meninggalkan Marsya sendiri di kamar karena ia berfikir kehadirannya hanya membuat Marsya semakin kesal. Sementara itu, Dara diam termenung sendiri di balkon apartemen. Ia tahu, kekecewaan Marsya mendapati sikap dingin ayahnya, ketakutan Marsya karena untuk pertama kalinya ia berada dikantor polisi, dan kesedihan Marsya karena ayahnya sama sekali tidak memperdulikan Marsya. Miko bahkan tidak menanyakan kabar Marsya setelah melihat tangisan Marsya di kantor polisi.

Satu jam kemudian, Dara masuk ke dalam kamar untuk melihat Marsya. Marsya kini sudah tertidur. Dara membetulkan selimut Marsya, ia kemudian berbenah dan bersiap tidur. Ia dan Marsya memang selalu tidur bersama karena disini hanya ada satu kamar. Saat Dara memeluk Marsya, tiba-tiba Marsya bangun,
Malam ini Marsya mencurahkan perasaannya pada Dara. Kesedihan bahwa nenek dan ayahnya membencinya. Tidak ada yang menginginkannya saat ini.

Marsya      : Nenek pernah berkata bahwa aku menyebabkan ibu meninggal. Apa karena itu ayah juga membenciku ?

Dara           : Jadi, ibumu sudah meninggal ? kapan ?

Marsya      : Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu seperti apa ibuku. Aku hanya mengenal nenek dan tidak pernah mengenal ibu.

Dara semakin iba mendengar perkataan Marsya, bagaimana mungkin seorang anak yang baru berusia 6 tahun bisa mengalami kesedihan seperti itu. Dara membawa Marsya ke balkon. Disana mereka melihat bintang yang bertaburan.

Dara           : Kamu tahu, nasib kita hampir sama, aku juga menjadi orang yang banyak dibenci orang lain.

Marsya      : Benarkah ? apa ibumu juga meninggal ?

Dara           : Tidak, ibu masih hidup dan dia sekarang berjualan kue dipasar.

Marsya      : Lalu siapa yang membencimu ?

Dara           : Teman-temanku membenciku karena aku anak seorang pencuri, aku tidak mempunyai teman di sekolah maupun dirumah. Suami ku juga pergi meninggalkanku. Dulu aku berfikir nasib ku sungguh malang, tapi sekarang setelah mendengar ceritamu,  setidaknya aku tidak terlalu sedih karena mempunyai teman yang bernasib sama. (Marsya menundukan kepala mendengar cerita Dara, kemudian Marsya mengangkat kepala Marsya sampai melihat ke langit) Kamu lihat bintang itu ?

Marsya      : Iya, sangat indah sekali.

Dara           : Kamu tahu tidak, bahwa orang yang meninggal itu berubah menjadi salah satu bintang di langit. Dan aku yakin, ibumu juga pasti ada di antara bintang-bintang itu.

Marsya      : benarkah ?

Dara           : Tentu saja, dan ibumu pasti bisa melihat kamu setiap malam. Dengar sayang, seseorang yang meninggal itu sudah menjadi kuasa tuhan. Tidak mungkin ibumu meninggal karena dirimu. Seorang manusia yang meninggal berubah menjadi bintang tandanya mereka bahagia di atas sana. Dan bintang yang paling bersinar itu pasti bintang paling bahagia. Jika kamu merasa bersedih lagi, maka lihatlah ibumu dari sini, aku yakin dia juga akan melihat dan tersenyum padamu. Dan pasti ibumu akan menjadi bintang yang paling bersinar karena bahagia anaknya selalu merindukannya.

Marsya memeluk Dara dan berterimakasih padanya. Mereka pun masuk ke dalam kamar dan tidur bersama.

Anak itu begitu rapuh, lebih rapuh dari yang aku kira. Orang-orang yang ia rindukan pergi meninggalkannya. Saat aku merasa aku menjadi orang paling tidak beruntung, sekarang aku tahu bahwa aku bukanlah orang yang paling tidak beruntung. Orang-orang di sekelilingku pun mungkin sebenarnya mempunyai banyak masalah, hanya saja mereka tidak menampakannya seperti aku. 


Part 8

No comments:

Post a Comment