Thursday, 21 May 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 1)

1.      1.  SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

Dara, perempuan berusia 30 tahun. Ia sudah bekerja selama 8 tahun di sebuah klinik kesehatan di Jakarta. Ditempat kerjanya, banyak orang yang tidak menyukainya karena ia hanya seorang lulusan SMA  yang berkat bantuan chanel orang dalam bisa bekerja sebagai perawat dan menjadi perawat yang disukai pasien karena ia cekatan dalam menghadapi pasien,terlebih lagi ia sangat jujur dan berani.

Silvi, teman perawat di klinik Dara bekerja menangis di toilet, ia kedapatan bermain handphone saat jam kerja dan itu menyebabkan pihak HRD menurunkan peringatan bagi siapa saja yang memakai handphone akan dikeluarkan. Dara merasa iba dengan Silvi, teman yang lainnya juga bergunjing tentang peraturan baru yang cukup mengganggu. Mereka membujuk Dara untuk menolak peraturan tersebut pada pihak HRD karena Dara perempuan yang paling berani diantara mereka. Dara akhirnya menyetujui permintaan mereka. Iapun menghadap ke pimpinan HRD, Pak Irgi.

Dara           : Maaf pak, kedatangan saya ini karena saya mewakili rekan-rekan merasa keberatan dengan peraturan baru yang melarang karyawan memegang ponsel saat jam kerja.

Irgi             : Baiklah, katakan alasan penolakanmu itu Dara.

Dara           : Kami merasa keberatan karena jika tidak memegang ponsel dalam waktu yang lama, kami takut jika ada sesuatu kabar penting dan kami tidak segera mengetahuinya. Tapi kami juga akan sadar diri untuk tidak menyalahgunakan ponsel tersebut untuk sesuatu yang tidak penting saat jam kerja.

Irgi             : Kamu yakin bisa menepati perkataanmu ? lagipula kita punya telpon klinik, jika ada sesuatu bisa telpon ke nomor klinik disini.

Dara           : Tapi pak saya merasa peraturan itu terlalu berlebihan. Lagipula menurut saya ini tidak adil karena para pimpinan juga selalu menggunakan ponsel bahkan secara terang-terangan memainkannya saat jam kerja.

Irgi             : Cukup Dara, kamu fikir kamu siapa berani berkata seperti itu. Mereka berbeda dengan kalian, jadi jangan pernah berkata seperti itu lagi. Jika kamu masih bersikeras dengan penolakan itu, sekarang kamu ikut saya !

Irgi membawa Dara keluar ruangannya lalu menyuruh semua karyawan berkumpul.

Irgi             : kalian semua saya kumpulkan disini karena saya ingin membahas satu hal. Teman kalian yang ada di sebelah saya mengajukan keberatan atas peraturan menggunakan ponsel saat jam kerja. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Karena itu saya putuskan untuk siapa saja yang menolak peraturan ini, saya menganggap dia mengundurkan diri. Dan sekarang saya Tanya pada kalian semua, siapa yang sependapat dengan Dara tidak menyetujui peraturan yang saya buat?

Dara yakin karyawan yang lain tidak akan setuju sebagaimana yang mereka katakana pada Dara sebelumnya. Dara menunggu satu menit, dua menit, hingga 5 menit tapi tidak ada satu orangpun yang menolak peraturan baru tersebut. Rupanya gertakan Irgi membuat karyawan yang semula bersemangat menolak peraturan kini terdiam karena takut dengan ancaman Irgi. Dan itu membuat Irgi merasa menang pada Dara. Setelah kejadian itu bisa dipastikan apa yang terjadi pada Dara. Ya , Dara dianggap mengundurkan diri dari klinik tersebut. Dara berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa aspirasinya adalah ide dari semua karyawan. Irgi tersenyum sinis, ia menasihati Dara untuk tidak terlalu percaya diri dan berani karena di dunia ini yang kuat lah yang selalu menang. Dara juga harus tahu bahwa orang-orang akan selalu berpegang pada yang kuat sekalipun itu terpaksa. Dan orang-orang seperti Dara pada akhirnya hanya akan disebut sebagai pemberontak. Dan inilah konsekuensi dari sikap Dara yang terlalu berani.

Saat Dara keluar klinik, Silvi menemuinya. Ia meminta maaf karena telah membuat Dara dipecat, ia juga berterimakasih atas keberanian Dara, tapi ia juga tidak bisa membantu Dara. Jika Silvi ikut dipecat, maka Silvi akan bingung mencari pekerjaan baru sementara ia tetap harus membiayai sekolah adiknya. Sementara jika Dara yang dipecat, Dara masih bisa bertahan karena ia mempunyai suami yang bisa menghidupinya. Meskipun kesal, namun Dara akhirnya merelakan pemecatannya.

Dara pulang kerumah dengan perasaan lesu, bukan karena ia dipecat tapi karena ia menyadari bahwa ia tidak mempunyai satu temanpun yang berada disisinya, terbukti ketika ia dipecat, tidak ada yang berani membelanya. Dan melihat rumah yang berantakan membuatnya semakin kesal. Mekipun ia malas melakukan apa-apa sata ini, tapi dirumah ini ia adalah seorang istri yang harus bertanggung jawab dengan isinya. Ya, Dara adalah seorang istri. Dara telah menikah 10 tahun  bersama Anton, Anton adalah seorang PNS di kantor Pemda yang menjabat sebagai kepala Disnaker. Dalam perkawinannya, mereka belum juga mempunyai keturunan, hal itu tentu saja tidak mudah untuk Dara, ia terbebani dengan usianya yang bertambah tua juga dengan mertuanya yang selalu menuntutnya agar segera hamil.

Tak terasa Dara sudah seminggu berada dirumah, ia mulai merasa bosan dengan kegiatannya, karena setelah pekerjaan selesai, tak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Dara memang membereskan rumah dengan cepat karena ia terbiasa dikejar waktu oleh pekerjaan di klinik. Tapi Dara juga bersyukur karena ia sekarang bisa benar-benar memperhatikan suaminya. Dan setiap hari ia menyiapkan sarapan dan bekal makan siang suaminya.

Dara mengunjungi toko baju milik mertuanya. Meskipun ia tahu mertuanya tidak menyukainya, tapi akan terlihat aneh jika Dara berhenti bekerja tapi tidak ada waktu untuk mengunjungi mertuanya. Ditoko mertuanya, telinga Dara panas karena mertuanya terus membahas masalah anak. Dara bukannya tidak berusaha, ia sudah berusaha berobat ke banyak dokter, bahkan sampai pengobatan tradisional dan alternatif pun ia jalani, tapi ia belum juga mendapatkan hasilnya sampai saat ini. Dan sekarang ia hanya bisa pasrah menunggu keajaiban dari Tuhan.

Seperti biasa,Dara menyiapkan bekal untuk Anton, namun karena terburu-buru bekal tersebut tidak terbawa. Saat Dara sadar Anton meninggalkan bekalnya, ia pun pergi ke kantor Anton untuk memberikan makan siang Anton. Dara juga menambahkan beberapa cemilan untuk teman Anton dikantor.

Namun sesampainya diruangan Anton, Dara mendapat kejutan besar. Anton sedang bermesraan dengan Rima,rekan kerjanya. Dara merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Spontan ia pun menghampiri mereka dan menumpahkan semua makan siang pada Anton hingga baju dan meja Anton berantakan karena tumpahan makan siang. Anton ingin menjelaskan pada Dara, namun Dara tidak mendengar lalu pergi dengan hati yang sangat kecewa. Diperjalanan pulang Dara menangis, ia tidak percaya Anton berbuat hal menjijikan seperti itu. Dibalik sikap lembut dan perhatiannya, Anton hanyalah seorang penghianat, sama seperti teman kerjanya di klinik. 

Esoknya, selingkuhan Anton, Rima datang kerumah Dara. Dara sudah mengenal Rima sejak 3 tahun yang lalu, Rima adalah staff di kantor Anton. Dia cantik, muda, dan seksi. Dara sangat marah dengan kedatangan Rima dan akan mengusir Rima. Saat Dara akan menutup pintu, Rima menahannya lalu berkata,

Rima          : Saya hamil !

Mendengar hal itu, hati Dara terasa seperti tersambar petir. Perlahan tangannya terlepas dari pintu yang akan ia tutup. Dara terduduk lemas di kursi tamu, Rima melanjutkan pembicaraannya. 

Rima          : Sebelumnya saya mau minta maaf sama mba, tapi saya fikir sekarang saatnya saya mengatakan semuanya. Hubungan saya dengan mas Anton terjadi tidak sengaja.  Beberapa bulan yang lalu, saya selalu melihat mas Anton termenung dikantor, saat itu saya hanya berniat untuk menjadi teman agar dia bisa menceritakan kegelisahan yang ia alami. Tapi entah kapan perasaan itu muncul, saya mulai merasa nyaman berada didekatnya. Saya merasa tidak tenang jika tidak melihatnya walau hanya sehari. Dan sampai akhirnya saya tahu, mas Anton merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan.

Mendengar pernyataan dari Rima membuat airmata Dara tak terbendung lagi. Ia membayangkan suaminya yang merindukan orang lain sementara ia ada disampingnya. Benar-benar membuat Dara terlihat menyedihkan. Rima melanjutkan perkataannya.

Rima          : Setelah semua yang terjadi dengan saya dan mas Anton, saya sadar saya tidak bisa hidup jika tanpa dia. Tapi saya juga tidak ingin merusak pernikahannya. Karena itu, saya tidak berniat untuk membuat mba dan mas Anton bercerai. Bagi saya, menjadi istri sirih mas Anton saja itu sudah cukup. Bagi saya, mas Anton selalu ada untuk saya itu juga cukup. Saya tidak perlu diketahui orang lain termasuk mba bahwa saya milik mas Anton. Tapi sekarang, mba sudah tahu semuanya, jujur saya merasa lega karena satu beban saya hilang.

Dara ingin mencabik mulut Rima saat itu, bagaimana mungkin ada perempuan yang tidak tahu malu seperti Rima. Yang dengan tenang menceritakan hubungan bejadnya dengan Anton. Tapi meskipun Dara ingin mencabik mulut Rima, ia merasa tidak mempunyai tenaga. Badannya terlalu kaku dan lemas hingga tidak bisa bergerak.

Dara           : Bisakah kau pergi sekarang ?

Rima          : Mba, saya minta maaf bukan karena saya mencintai suami mba, tapi karena saya harus mengatakan hal ini pada mba. Satu lagi, semalam untuk pertama kalinya, mas Anton menginap di rumah saya. Saya sengaja melarangnya pulang agar mas Anton bisa tahu akibat dari perbuatannya bahwa ia tidak akan mendapatkan dua hal sekaligus. Jika mas Anton benar-benar menyayangi mba, semalam seharusnya walaupun saya melarangnya pulang, ia tetap pulang mendatangi mba. Tapi kenyataannya, ia tidak pulang dan memilih tinggal bersama saya. Mba mengerti maksud saya ?

Dara habis kesabaran, tangannya bergerak sendiri menampar Rima hingga pipinya memerah. Dengan sekuat tenaga Dara mendorong tubuh Rima keluar rumah hingga Rima tersungkur. Naas saat itu ternyata Anton berada didepan rumah dan melihat apa yang dilakukan Dara. Dalam tangisnya, Dara berusaha membela diri dan berkata ia tidak sengaja pada Rima. Sementara Anton, tatapannya lurus pada Dara, matanya berkaca-kaca. Entah saat itu apa yang ada dalam fikiran Anton, penyesalan telah menghianati Dara atau penyesalan menikahi Dara. Rima masih tersungkur dan meringis kesakitan, hal itu menyadarkan Anton dan segera membantu Rima berdiri. Tanpa berkata sedikitpun, Anton pergi membawa Rima meninggalkan Dara.

Dimobil, Anton memarahi Rima yang berani datang ke rumahnya.

Anton        : Sudah kubilang jangan pernah datang kerumah dan ikut campur rumah tanggaku dengan Dara.

Rima       : Mas, aku hanya ingin menjelaskan semuanya sama mba Dara. Kita tidak bisa terus menerus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Lagipula mba Dara terlanjur tahu semuanya kemarin. Sekarang apa lagi, tidak ada jalan keluar lain selain jujur.

Anton        : Tapi tidak dengan membuat Dara menangis seperti itu. Apakah peringatanku semalam tidak cukup ? cukup aku yang menghadapi Dara. Kau hanya perlu diam ditempatmu dan jangan melewati batas.

Rima memang tidak sepenuhnya jujur pada Dara karena sebenarnya semalam Anton tidak datang kerumah Rima. Setelah kejadian dimana Dara melihat dirinya dengan Rima, Anton ingin mengejar Dara, tapi Rima menahannya dan mengatakan suasana akan semakin panas jika Anton mengejar Dara sekarang. Rima menyuruh Anton membiarkan Dara sendiri hingga keadaannya tenang. Anton menuruti perkataan Rima,tapi ia juga melarang Rima untuk tidak mencampuri urusannya dengan Dara.  Dan malam itu, Anton pergi untuk menyendiri tanpa menemui Rima atau Dara.

Setelah kejadian itu, Dara tidak keluar kamar. Anton pulang kerumah dan ingin berbicara pada Dara. Tapi Dara menolak dan tetap diam dikamarnya. Hingga 3 hari Dara habiskan untuk berfikir,kini Dara sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menelpon Anton ketika Anton sedang bekerja dan mereka bertemu di sebuah tempat.

Anton         : Apa kamu sudah makan ?

Dara           : Apa itu sebuah pertanyaan ? aku tidak ingin berbasa-basi dengan mas kali ini. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang. Mas . . .  sebaiknya kita akhiri semuanya sampai disini.

Anton        : Dara, dengar penjelasanku dulu, kita tidak seharusnya seperti ini. Aku bisa jelaskan semuanya.

Dara           : Bagiku, kebersamaan kita selama 10 tahun sangat berarti. Meskipun sudah sekian lama berlalu, tapi aku merasa mas masih seperti yang dulu. Seseorang yang ada untukku disaat semua orang menghinaku. Mas satu-satunya orang yang tidak memandangku dengan sebelah mata saat itu.

Ingatan Dara kembali ketika SMA, ayahnya menjadi tersangka kasus korupsi di Bank BI dan harus menerima hukuman penjara selama 20 tahun. Bukan hanya itu, seluruh kekayaan ayahnya disita hingga ia harus pindah ke perumahan kumuh berdua bersama ibunya. Disekolah, semua siswa menghina Dara. Sejak saat itu Dara selalu sendiri, dan dalam kesendirian Dara, Anton datang pada Dara dengan tangan terbuka. Dara merasa Anton sudah lebih dari cukup untuk menjadi temannya, tapi seiring waktu berlalu, Anton dan Dara semakin dekat, mereka berpacaran selama 3 tahun hingga akhirnya Anton melamar Dara. Dara masih ingat saat itu Anton berjanji apapun yang terjadi pada Dara, bagaimanapun orang lain menghina dan mengucilkan Dara, Anton akan tetap ada untuk dirinya.

Dara           : Jika mengingat masa itu, aku merasa itu adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Tapi ternyata waktu membuatnya berubah. Dulu dan sekarang berbeda. Dulu mas bisa menerima bagaimanapun keadaanku, tapi sekarang saat kita semakin dewasa, kita sadar kita tidak bisa saling menerima selamanya.
Anton        : Dara, semuanya hanya sebuah kesalahan, aku bisa memperbaiki semuanya. Jadi aku mohon jangan seperti ini.
Dara           : Menurutku kesalahan adalah ketika mas memutuskan untuk menerimaku padahal mas tidak bisa benar-benar menerimaku. Keputusanku sudah bulat mas, aku tidak bisa berbagi suami dengan orang lain. 

Apalagi orang lain itu lebih baik dariku. Aku sudah lelah dengan kekalahan, karena itu sebelum aku benar-benar kalah, lebih baik mengalah sekarang.

Terkadang kenyataan tidak selalu manis, bahkan disaat kita fikir sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi jika hasilnya tidak sesuai rencana, apa yang bisa kita lakukan. Aku, dibalik senyum dan keberanianku, aku adalah seseorang yang bisa marah dan kecewa. Kenyataan bahwa hanya dalam waktu 1 bulan aku kehilangan pekerjaan dan suami membuatku benar-benar terpukul. Aku tidak mendapatkan hal yang baik meskipun aku berusaha sebaik mungkin. . Dia yang aku anggap segalanya,ternyata tidak begitu dia menganggapku. Untuknya, apakah 10 tahun tidak cukup untuk membuatnya menerimaku ? atau apakah dalam 10 tahun itu, aku hanya sebuah beban? beban karena menjadi seseorang yang tidak berguna dalam segala hal ! satu luka belum pulih, dan kini luka baru telah muncul. Lalu besok akankah ada luka yang lainnya ?? 

Part 2 

No comments:

Post a Comment