Tuesday, 26 May 2015

DARA,PLEASE BE MY MOM (PART 6)



1.       Part 5

            6. PELUNASAN HUTANG !

Miko bingung apa yang harus ia lakukan dengan anak itu ? ia tidak mungkin mengurusnya karena ia tidak bisa bersama anak kecil apalagi mengurusnya. Mikopun memutuskan akan menyewa seorang pengasuh. Ismi tidak menyarankan agar Marsya dirawat pengasuh biasa, karena seorang pengasuh bisa saja membocorkan Marsya anak Miko pada media, dan itu akan sangat buruk untuk karir Miko. Ismi menyarankan Miko memberikan anaknya pada orangtua Miko. Ismi yakin itu jalan yang terbaik saat ini. Dan kali ini Miko menolak saran Ismi. Ia tidak ingin melibatkan orangtuanya dalam hal ini. Ayahnya sudah sangat membencinya, ia tidak mau jika memberikan Marsya, akan berakibat lebih buruk lagi. Tiba-tiba ponsel Miko berdering, dan itu dari Dara.


Miko          : Apa ? sudah ada uang untuk bayar utang ?

Dara           : Sebenarnya, begini. Uang itu, aku . . .

Miko          : Sudah jangan buang waktuku, jika tidak ada uang bersiap-siap untuk dibawa polisi.

Dara           : Eh, tunggu tunggu. Saya ada uangnya. Kamu bisa mengambilnya sekarang juga.

Miko          : Transfer saja uangnya, aku sibuk !

Dara           : Tidak bisa, aku juga harus mendapatkan KTP ku. Bukankah perjanjiannya jika hutang lunas, aku mendapatkan KTP lagi.

Miko          : Baiklah, segera transfer uangnya, maka aku akan mengirim seseorang untuk memberikan KTP padamu !

Dara           : Tidak, tidak . . .  kamu harus mengantarkan KTPnya sekarang.

Miko          : Kamu fikir aku ini pengangguran yang tidak ada kerjaan !

Dara           : Ku mohon, sekarang aku di kantor polisi  Matraman !

Miko          : Apa ? Kamu sudah menyerahkan diri ?

Dara           : Bukan begitu, ceritanya panjang. Tapi aku mohon, sekarang juga datang kesini. Aku mohon !

Miko          : Aku sibuk ! urus saja urusanmu sendiri !

Miko menutup telponnya. Dara kesal pada Miko. Ia juga bingung harus bagaimana sekarang. Haruskah ia menelpon ibunya ? Dara masih bingung. Ia duduk sambil menundukan kepalanya di pojok kantor polisi. Dua jam kemudian, tiba-tiba Miko ternyata datang ke kantor polisi. Ia segera membereskan kasus Dara, dan dengan singkat Dara bisa dibebaskan. Miko membawa Dara keluar kantor polisi.

Dara           : Terimakasih banyak. Dan ini, uang untuk membayar hutangku. Semuanya ada sekitar 9 juta. Kurangnya akan segera aku lunasi.

Miko          : Benarkah ? hutangmu masih banyak. Apa kamu lupa ? baru saja aku membayar jaminan untuk membebaskanmu. Jadi hutangmu masih belum lunas !

Dara           : Apa ? masih ada lagi !!!

Dara menutup mukanya menahan kesal. Satu masalah teratasi, masalah yang lain muncul.

Miko          : Tentu saja, karena itu KTP mu masih berada di tanganku. Tapi kali ini aku akan memberimu kemudahan !

Dara           : Benarkah ?

Miko          : Hmmm . . .  Kamu tidak perlu membayar dengan uang, tapi cukup dengan tubuhmu !

Dara           : Apa kamu bilang, kamu fikir aku ini apa ! tidak mau !

Miko          : Hey, , apa yang kamu fikirkan ! jangan berkhayal. Kamu ini bukan tipe ku ! sekarang masuk mobil dan aku akan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan !

Dara menolak, namun Miko memaksa Dara masuk kedalam mobilnya. Lalu membawa Dara kerumahnya.

Flashback dua jam yang lalu. Saat Miko menutup telpon dari Dara, Ismi menanyakan siapa Dara. Miko menjelaskan masalahnya dengan Dara. Dara mempunyai hutang pada Miko, itu bisa Miko pergunakan agar Dara bisa merawat Marsya. Lagipula usia Dara 30 tahun, jadi jika sewaktu-waktu ada masalah, Dara bisa berpura-pura jadi ibu Marsya tanpa harus melibatkan Miko. Miko tersenyum mendengar ide cerdas Ismi. Flashback End.

Dara sampai dirumah Miko. Disana sudah ada Ismi dan Marsya. Dara duduk di meja yang sudah tersimpan sebuah perjanjian. Dara membacanya. Perjanjian tersebut berisi :


  1. Dara akan membayar hutang pada Miko dengan cara mengasuh Marsya selama 3 bulan sampai Miko menemukan nenek Marsya.
  2. Dara tidak akan membocorkan pada siapapun bahwa Miko adalah ayah kandung Marsya.
  3. Dara akan berpura-pura sebagai ibu Marsya jika ada hal yang mengaitkan Marsya dengan Miko.
  4. Dara akan tinggal bersama Marsya.
  5. Dara bertanggung jawab terhadap Marsya kecuali tentang biaya.

Dara tentu saja menolak perjanjian itu, ia belum pernah mengurus anak, karena itu ia tidak yakin bisa mengurs Marsya. Lagipula ia tidak bisa tinggal bersama Marsya, karena ibu pasti tidak akan mengijinkannya.

Miko          : Ini bukan kesepakatan, tapi ini perintah. Kamu tidak bisa menolaknya. Karena kalau tidak, aku akan kembali mengantarmu ke kantor polisi sekarang juga. Lagipula kamu tidak perlu tinggal bersama ibumu untuk mengurus Marsya.

Dara           : Apa ? jadi aku tinggal disini ? tidak tidak tidak. Itu lebih tidak masuk akal.

Miko          : Dasar wanita bodoh. Tentu saja tidak tinggal disini. Kamu fikir aku mau tinggal bersama 2 orang asing dirumahku !

Dara           : Lalu ?

Miko          : Besok bawa semua barangmu kemari dan kamu akan tinggal di apartemenku. Mengerti !
Terpaksa Dara menandatangani perjanjian itu. Ia kembali kerumah dengan lesu. Kejadian hari ini sungguh menguras otak dan tenaganya.

Malam ini Dara pamit pada ibunya karena besok ia akan mulai bekerja ditempat yang baru sebagai seorang pengasuh anak. Karena itu ia akan tinggal bersama anak itu. Ia meminta ibunya menjaga kesehatan selama ia tidak tinggal bersama ibunya. Dara juga meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik-baik saja bekerja sebagai pengasuh anak. Lagipula mengurus anak bukan hal yang buruk. Dengan berat ibu mengijinkan Dara, sebenarnya ibu lebih menginginkan Dara membantunya dipasar, karena suatu hari nanti, ia ingin Dara yang melanjutkan usaha kuenya. Tapi ibu juga tidak bisa memaksa Dara untuk melakukan apa yang ibu inginkan.

Merawat seorang anak ? apakah aku bisa ? aku memang sangat menginginkan anak sejak lama, tapi itu ketika aku masih bersama Mas Anton. Saat harapan itu pupus, aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak bisa aku hindari. Merawat anak yang sama sekali bukan darah dagingku, bukan darah daging orang yang aku sayangi. Bisakah aku melewati semuanya?

Part 7 

No comments:

Post a Comment